Wiwid juga menjelaskan konsep ketahanan keluarga. Ketahanan keluarga, jelasnya, terdiri dari ketahanan fisik, ketahanan ekonomi, ketahanan sosial psikologi dan ketahanan sosial budaya.
“Komponen ketahanan ekonomi meliputi kepemilikan rumah, besarnya penghasilan, tabungan, keterjaminan asuransi kesehatan, kemampuan membayar listrik, keperluan pendidikan anak dan tidak adanya anak putus sekolah,” urainya.
Kepada para peserta yang hadir, Wiwid juga menguraikan stunting pada anak dan juga penyebabnya.
“Penyebab tidak langsung terjadinya stunting antara lain terkait dengan pola asuh dalam keluarga, terutama praktek pemberian makan pada bayi dan balita,” sebutnya.
Menurutnya, praktek pemberian gizi dalam keluarga terutama pada bayi, balita, ibu hamil, ibu melahirkan dan perempuan, bahkan seluruh anggota keluarga sangat terkait dengan kondisi ketahanan ekonomi.
Selanjutnya, kata Wiwid, ketahanan ekonomi dalam keluarga akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan keluarga menyediakan menu makanan sehat.
“Penyediaan makanan sehat, terutama bagi bayi, balita dan ibu hamil yang dikenal dengan seribu hari pertama kehidupan (HPK), sangat berpengaruh terhadap terjadinya stunting dalam keluarga,” tegasnya.
Wiwid juga menyentil kuatnya budaya patriarki yang ikut memberi andil bagi pemenuhan gizi pada anak. “Dalam budaya patriarki makanan yang mengandung protein tinggi seperti daging, ikan, telur lebih diprioritaskan bagi kaum laki-laki daripada kaum perempuan, ibu hamil, ibu melahirkan, bahkan anak perempuan,” katanya. (den)







