Sulaeman, yang juga anggota tim penulis buku Membangun Tanpa Sekat merasa kehilangan Jena, seorang putera asli yang konsisten mendidik para mahasiswa dan berbakti bagi ribu ratu (orang banyak di rantau).
“Kami sekeluarga turut berdukacita mendalam atas berpulangnya ama Jena. Semoga Tuhan memberi tempat yang layak di sisiNya,” ujar H. Sulaeman L Hamzah, anggota Fraksi NasDem DPR yang juga Ketua Masyarakat Flobamora Papua.
“Ternyata bukan hanya jarak yang memisahkan kita, tetapi ruang dan waktu juga telah memisahkan kita untuk selamanya sejak detik ini. Mimpi-mimpi kita berdua, akhirnya tetap sebatas mimpi,” kata Dr. Marselus Ruben Payong, anggota grup Ata Lembata yang juga dosen Unika Santu Paulus Ruteng, Flores, NTT.
Anggota grup Ata Lembata, Fransiskus Xaverius Berardus Limalaen Krova, mengenang Alm Yeremias Jena sebagai figur dan pribadi yang sangat mengayomi keluarga dan para sahabatnya. Jena di mata Nar Krova, praktisi asuransi dunia, adalah pribadi yang tegas seperti sang ayah.
Almahrum juhga adalah sosok kreatif yang selalu muncul dengan ide-ide bernas setiap diskusi seperti dalam grup Lembata diaspora dedunia.
“Beliau sangat terbuka dengan pemikiran-pemikiran demokratis meruntuhkan sekat-sekat primordial. Saya kerap merasa sungkan karena beliau adalah kerabat dekat ibu saya. Sebagai anak yang lahir dari rahim perempuan sekampung reu Jena, kadang saya sungkan bicara. Tetapi beliau menerima setiap kririk dalam diskusi secara terbuka. Kami juga sama-sama pernah sekolah calon pastor. Saya menggeluti profesi sebagai kernet bus Jakarta-Banda Aceh sebelum akhirnya menetap di asuransi. Beliau melangkah terus dan bertahan sebagai guru. Saya kehilangan teman diskusi dan opu lake (om) terkasih,” ujar Nar Krova.
Menurut Veronika Wagun Koban, isteri Almahrum, Yeremias sedang menyiapkan diri mengikuti ujian doktoral (S-3) di STF Driyarkara Jakarta. Selama mempersiapkan diri ujian disertasi, Cecilia Angelina de Urupia Langotukan adalah teman diskusinya.
“Saat mempersiapkan diri ujian disertasi, beliau asyik diskusi dengan Nona Cecilia. Nona baru semester 5 di Jurusan Media Fakultas Ilmu Komunikasi Unika Atma Jaya. Keduanya cocok sekali diskusi, apalagi bapanya juga suka menulis di koran dan jurnal internasional,” kata Vero Koban.
Yeremias Jena Langotukan lahir di Atawatung, Ile Ape Timur, 23 Agustus 1969. Belajar dua tahun di SDK Yos Sudarso Atawatung, kemudian lanjut di SD Inpres Lamahora dan tamat tahun 1983. Ia tamat SMP Negeri Lewoleba (1986) dan SMA Negeri Nubatukan (1989). Kemudian masuk Tahun Postulan Serikat Salesian Don Bosco (SDB) di Fuiloro, Lospalos (Timor Leste, 1990) dan Novisiat SDB di Fatumaca, Baucau (Timor Leste, 1991).
Studi Sarjana Filsafat ditempuh di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta selama 3 tahun (1991-1994), diikuti Tahun Orientasi Pastoral di SMA Seminari Don Bosco Fatumaca. Kembali ke STF Driyarkara untuk menyelesaikan Sarjana Filsafat (1996-1997) sebelum melanjutkan studi teologi di Don Bosco Center for Studies di Manila (Filipina, 1997-1999). Pendidikan Magister Filsafat diselesaikan di STF Driyarkara (2009), Master of Science bidang Bioetika di Universiteit Katholieke Leuven, Belgium tahun 2011.
Kini sedang menulis disertasi tentang etika kepedulian di STF Driyarkara Jakarta. Sejak 2009 menjadi dosen tetap bidang etika, bioetika, dan filsafat ilmu di Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (Jakarta).
Jena sudah menulis empat buku masing-masing Santo Yohanes Bosco: Rasul Kaum Muda, 2009; Merajut Hidup Bermakna: Narasi Filosofis Pencerah Kehidupan, 2013; Wacana Tubuh dan Kedokteran: Sebuah Refleksi Filosofis, 2014), dan Filsafat Ilmu: Kajian Filosofis atas Sejarah dan Metodologi Ilmu Pengetahuan, 2015
Karya-karya ilmiah telah terbit di banyak jurnal ilmiah dalam dan luar negeri. Tulisan populer tersebar di Suara Pembaruan, Media Indonesia, Kompas, dan Mingguan Hidup. (der)







