KUPANG kabarntt.id—Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Emanuel Melkiades Laka Lena, menghimbau masyarakat memrioritakan kebutuhan gizi ibu hamil (bumil) guna mencegah stunting.
Himbauan itu dikemukakan Melki Laka Lena ketika tampil pada acara Kampanye Percepatan Penurunan Stunting di Aula SMP Adi Sucipto Kupang, Kamis (1/6/2023).
Melki Laka Lena tampil bersama Kepala BKKBN NTT, Marianus Maukuru, dan Kepala KBKS Kota Kupang, drg. Fransiska Yohana. Kampanye itu dihadiri OMK Paroki St. Yosef Penfui, kader-kader posyandu dan masyarakat.
“Tadi sudah dikatakan Kepala KBKS Kota Kupang bahwa urusan stunting ini adalah tanggung jawab kita bersama, bukan tanggung jawab BKKBN saja ataupun kami di DPR RI ataupun Pak Gubernur. Namun ini menjadi tanggung jawab bersama. Tentu penanganan stunting ini harus menjadi tugas dan perkerjaan kita semua,” papar Melki Laka Lena.
Ketua DPD I Golkar NTT ini mengatakan, Presiden Jokowi menugaskan kepada BKKBN pusat menjadi koordinator penanganan stunting di seluruh Indonesia, yang kemudian bertanggung jawab atau berkoordinasi dengan wakil presiden.
“Dan yang menjadi komandan itu sesuai Perpres 72 tahun 2021 adalah Kepala BKKBN. Di tingkat provinsi mestinya Pak Marianus, tapi untuk memudahkan itu biasanya kami minta pimpinan daerah kalau tidak gubernur biasanya wakil gubernur dan pak Marianus sebagai kepala BKKBN Provinsi yang menggerakkan penanganan stunting di daerah,” kata Melki Laka Lena.
Terkait dengan stunting di NTT, kata Melki, ada dua cara pandang.
“Kita di NTT ini, ada dua cara pandang status stunting. Satu menggunakan survai dan satunya lagi berdasarkan nama dan alamat. Stunting di NTT dulu kita mencapai 38,7 persen menggunakan pola survai. Kemudian karena berbagai macam situasi, perkembangan diskusi, akhirnya sekarang menggunakan pola berdasarkan sensus perorangan,” jelasnya.
Dari 38,7 persen itu, kata Melki, NTT turun menjadi 15 persen dan kondisinya berubah dari paling tinggi menjadi paling rendah se-Indonesia
“Tapi jangan kita juga berbesar hati dan kita batas sampai di sini. Bila perlu kita bikin di bawah 10 persen atau bahkan sampai 0. Dengan angka semacam ini kita jangan lengah kemudian kita kurang bekerja keras, namun kita tetap gencar agar tidak ada kasus stunting di NTT,” pintanya.
Lebih lanjut Melki meminta agar ibu hamil diprioritaskan gizinya dan harus diutamakan dalam hal pemenuhan kebutuhannya. Sebab hanya dengan begitu tidak ada kasus stunting di dalam keluarga.
“Apabila ada yang hamil tolong agar dikasih gizi yang bagus, prioritaskan kebutuhannya agar anak yang dikandungnya menjadi tumbuh benar dan sehat dalam rahim. Jadi semua anak-anak yang dalam kandungan itu mereka membawa masa depan dari orang tuanya,” ungkapnya. (np)







