“Berpijak pada motto ini, panitia bersama umat Allah Paroki Boto merenovasi rumah Tuhan, tempat Allah ditakhtakan. Spirit dan kegigihan umat berpijak pada Kristus, tumbuh dan mereka berniat merenovasi gereja yang sudah dibangun sejak 1990 dan rampung tahun 1995. Namun, seluruh fasilitas belum lengkap. Atapnya bocor karena kemiringan hanya sekitar 16 derajat,” ujar Romo Bernard Kedang, imam kelahiran desa nelayan Lamalera.
Sedangkan Ketua Dewan Stasi Santo Joseph Boto, Yohanes Dua Baon, menyampaikan terima kasih kepada KWI atas perhatian dan bantuan tersebut. Selama ini, sumber dana pembangunan Gereja Santu Joseph Boto berasal dari swadaya panitia dan umat sehingga upaya merampungkan bangunan gereja masih tersendat.
“Kami panitia dan umat berterima kasih dan menyambut gembira perhatian KWI membantu meringankan usaha dan kerja keras panitia. Bantuan ini tentu akan menjadi penyemangat kami semua untuk bekerja lebih giat lagi,” ujar Yan Dua Baon yang juga Kepala SDK Boto ini.
Boto adalah pusat paroki dan ladang misi SVD dan SSpS sejak enam puluhan tahun lalu. Gereja melalui SVD dan SSpS tak sekadar melayani umat di bidang pelayanan iman, namun juga bidang kesehatan, pendidikan, dan pertanian.
Selain para imam, suster, bruder, biarawan dan biarawati dalam negeri, paroki ini juga menjadi tempat berkarya para misionaris asing.
Umat selalu ambil bagian bersama para misionaris yang berkarya di Boto. Mereka juga sangat mengasihi misionaris yang berkarya di Boto. Umat juga mengenal jasa baik para misionaris. Misalnya Pastor Jan Knoor SVD, Pastor Bernard Bode SVD, Pastor Nicholas Strawn SVD, adalah imam SVD yang menggantikan posisi Pater Bode sebagai Pastor Paroki Boto.







