Hendrik A. R. Koroh lahir di Baun, 9 April 1904. Menempuh pendidikan di tiga jenjang sekolah berbeda lokasi yakni ELS di Kupang (1920), MULO di Batavia (1924) dan AMS di Yogyakarta, namun tidak tamat karena alasan politis yang dibuat oleh Pemerintah Hindia Belanda. Residen Timor di Kupang memanggilnya pulang untuk dinobatkan sebagai raja menggantikan ayahnya, Alexander Rasyam Koroh yang dipecat.
Hendrik A. R. Koroh yang dipanggil pulang justru tak dapat “diatur” oleh Residen Timor. Koroh menghadiri Konferensi Malino dengan menyuarakan integrasi ke dalam NKRI. Sekembalinya dari Konferensi Malino, para usif (raja) di Timor bertemu dalam suatu perundingan raja-raja Timor yang menghasilkan kesepakatan yakni mendukung perjuangan H. A. R. Koroh melalui meja perundingan bersama-sama para penjuang nasionalis lainnya.
Pada 21 Oktober 1946, Federasi Raja-raja Timor terbentuk dimana H. A. R. Koroh (Usif Amarasi) sebagai Ketua, dan A. Nisnoni (Usif Kopan/Kupang) menjadi Wakil Ketua. Perjuangan integrasi Federasi raja-raja Timor dan sekitarnya ke dalam NKRI terus diperjuangkan sampai Belanda mengakui NKRI sebagai negara berdaulat.
Hendrik A. R. Koroh meninggal pada 30 Maret 1951. Ia dihormati dan disegani masyarakat (too ~ aaz) Pah Amarasi pada zamannya.
Prof. Dr. Ir. Herman Johannes
Profesor Dr. Ir. Herman Johannes merupakan salah satu tokoh nasional yang telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional bidang nuklir. Lahir 28 Mei 1912 dan meninggal dunia 17 Oktober 1992.
Data dan informasi (sumber) menunjukkan betapa ia bukan saja seorang guru/dosen, yang pada puncaknya menjadi Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM 1961-1966), tetapi juga seorang politikus, ilmuwan, hingga menjadi seorang pembantu Presiden Soekarno sebagai Menteri Pekerjaan Umum (1951-1956). Pada zaman Presiden Soeharto berkuasa, Herman Johannes menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (1968-1978).







