Di kalangan para frater dan komunitas Seminari Tinggi Santu Paulus Ledalero, nama Pater Simeon dan segala sepak terjangnya, pasti ada dan selalu membekas rapih di hati setiap insan dan tentu juga meninggalkan aneka kisah dan narasi yang berbeda satu sama lain.
Pastor yang satu ini agak unik dari sekian dosen dan para formator yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk SVD dan para formandi yang hidup di bukit sandar matahari.
Dalam grup alumni angkatan tahun 1997, banyak pengalaman yang ditulis tentang Pater Simeon. Pater Damian Ria Pay, menulis kisah tentang almarhum sebagai berikut: P. Simeon ybk! Ada banyak kisah tentangmu. Tidak cukup tertuang dlm kata-kata kami yag terbatas. Yang pasti hidupmu adalah jawaban paling jujur melawan kemapanan. Kau tidak ingin terpenjara di dalam kemewahan menara gading. Kau tak cuma mengajar. Tapi telah menghidupi ajaran. Wujud Sabda yg menjadi daging. Tidak tunduk pada apa kata orang. Tampak nyata dalam “kegilaan” kesederhanaanmu. Sebuah keteladanan yang otentik. Sebuah perlawanan yg santun dan cerdas. Terhadap segala yang nyaman dan dianggap sudah selesai. Dirimu tidaklah demikian! Kau ajarkan kami hal-hak sederhana dan unik. Kau ramu bahan eksegese justru dari kotoran hewan, dengkuran suara babi di kandang serta lenguhan sapi yang kau ikat tepat di samping barak kuliah. Sabda itu akhirnya sungguh-sungguh hidup. Bukti perjalanan yang harus melampaui jarak tempuh. Tepat seperti kata-katamu di barak kuliah dulu. Sekalipun kau telah masuk dalam keabadian, gema ajaranmu akan terus berkumandang. Kami yakin kaupun tetap setia menatap kami dari seberang jalan. Meskipun sering kami melukaimu dan telah salah menilaimu selama hari-hari kebersamaan kita dulu. Benar kau tak pernah marah dan tersinggung lewat teriakan “Balong”. Karena kau sangat mengerti pada kesadaran kmi yang belum ranum. Selamat jalan Pater Simeon, Imam dan Guruku. Beristirahatlah dalam damai Tuhan.







