Oleh :Kanis Lina Bana
Pater Simeon Bera Muda, SVD, kertas karbon, dan barak kuliah STFK Ledalero. Itulah lembar kebersamaan yang pernah anyam dan alami bersama putra Solor ini. Persisnya di tahun 1998. Saat mengikuti kuliah eksegese Injil Matius. Semua yang dipentaskan di ruang barak kuliah itu adalah endapan memori tak terlukiskan.
Sebelumnya, sepintas saya kenal dari adiknya, Albertus Bala Muda. Sahabat karib saya. Kami pernah satu rumah menenun masa depan. Pater berkunjung adiknya dan tiba pada malam hari, menggunakan bis malam dari Ledalero. Di pagi hari, menjelang sarapan, Albert jemput Pater Simeon dari kamarnya untuk santap bersama.
Setengah kaget ketika menatap pesona tinggi berpostur semampai itu. Sebab beda-beda tipis dengan sang adik. Bukan 11-12, tapi 11-11,5. Pater perkenalkan diri. Lalu doa bersama untuk sarapan. Dialog di meja makan berlangsung sekadarnya. Ada rasa sungkan menyelimuti bilik hati. Khawatir ada ucap yang menyebabkan Pater Simeon tersinggung. Sebab hubungan saya dengan adiknya itu sangat dekat. Saling baku tahu luar dalam. Tak ada yang tersembunyi. Kekhawatiran terbesar saya adalah celetuk-celetuk tak terkontrol yang bikin tensi darah naik. Meski sebetulnya itu konsekuensi dari relasi yang kental, dekat, dan akrab.
Itu sebabnya selama makan bersama berlangsung, pembicaraan saya terukur dan seperlunya. Tak heran, karib saya, Albert Bala Muda, olok saya. Katanya, “Saya lihat kraeng sopan sekali pagi ini. Kaku macam tabernakel saja”. Saya hanya bilang begini, “Kawan saya takut dosa. Ini ada pastor kita omong harus sopan. Apalagi di hadapan ahli Kita Suci. No… juga jangan lagak karena kakak pastor,”. Kami pun tertawa lepas.






