Sosoknya amat sederhana dan bersahaja. Postur tubuh tinggi dengan isi badan yang kurang kenyal. Rambut keriting. “Super mie”. Anti goyang. Berewokan. Kurang terurus. Dibiarkan tebal. Sesekali dalam nada guyon, teman-teman frater tingkat IV komentar begini. “Pater..akar giginya cukup panjang dan tebal!”.
Ucapan ini mengandung imperatif agar jenggotnya dicukur. Tapi jawaban Pater Simeon disertai senyum tipisnya begini, “Jenggot ini punya hak hidup karena dia bagian dari tubuh saya. Apa yang mengganggu hidup kalian?” Kami semua tertawa lepas. Juga ada yang komentar begini. Pater piara sapi. Sapinya gemuk, tuan sapinya kurus.
Ini menunjukkan betapa hubungan kami dengan pater sangat dekat. Apakah Pater Simeon tersinggung dengan komentar lepas dari para frater? Sama sekali tidak. Pater Simeon tidak tersinggung sedikit pun. Tidak marah. Biasa-biasa saja. Bahkan semakin dekat dengan semua frater. Termasuk frater-frater tukang guyon itu.
Pengalaman puluhan tahun lalu itu seakan mengiang lagi usai membaca beranda FB beberapa teman berisi berita duka kepergian Pater Simeon Bera Muda, SVD. Pastor pencinta binatang dan dedikasi menghayati spritualitas kemiskinan ini meninggal, Senin (10/3/2025) pukul 5.30 Wita. Saat frater-frater sedang merayakan ekaristi kudus. Ucapan duka terus mengalir. Umumnya dari mantan muridnya. Baik yang sudah jadi pastor pun sejumlah awam yang berladang di mana-mana.
Di grup Whats App, Rindu Rita, berita duka ini disampaikan sahabat saya, Anselmus DW Atasoge. Doktor pencinta sastra ini menarasikan berita duka itu dalam polesan puitik yang kental. Saya kutip sepotong kesan dari dosen STIPAR Ende ini: Pagi ini mendung. Langit pagi tidak cerah. Renai gerimis turun pelan membasahi bumi. Situasi saat ini seakan melukiskan cerita duka pagi ini. Imam dan gembala, guru dan dosen, pembimbing dan pendamping yang sungguh luar biasa, Pater Simeon Bera Muda, SVD dipanggil menghadap hadirat Tuhan.







