Perjumpaan dengan Pater Simeon kian kental berlangsung di barak kuliah STFK Ledalero tahun 1998. Bangunan sederhana itu terletak di samping lapangan bola sepak Seminari Tinggi St. Patrus Ritapiret. Kala itu, saya termasuk salah satu penghuni seminari imam projo terbesar itu. Di barak itulah mahasiswa calon imam bergumul dengan ilmu filsafat dan teologi.

Saat itu Pater Simeon mengasuh mata kuliah eksegese Injil Mathius bagi para frater tingkat IV. Penyajian materi dari Pater Simeon menarik. Tafsirannya juga unik dan detil. Kadang kami kewalahan berurusan dengan Pater Simeon, SVD. Sebab selain kuliah tatap muka di ruang barak nan panas itu, kepada kami masih diberi tugas yang amat rumit. Pekerjaan rumah ditulis dalam buku beralaskan kertas karbon. Dikumpulkan untuk diperiksa.
Beda lagi jika ujian semester. Soalnya tidak banyak. Hanya lima nomor. Itupun tidak semua dikerjakan. Hanya dua atau tiga soal saja. Pada kepala lembar soal ujian sudah tercantum jelas catatannya, “soal wajib dan soal pilihan!. Hanya uraian jawaban masing-masing nomor soal yang bikin frater kalang kabut. Yang beruntung saja bisa lulus. Yang lain pasti langganan her alias uji ulang.
Untuk lulus ujian mata kuliah eksegese Injil Mathius tidak semata-mata menyelesaikan soal-soalnya, tetapi catatan pekerjaan rumah punya andil untuk luput dari her. Saya beruntung bisa lulus.
Pater Simeon sangat teliti dalam menafsir pesan teks Injil Mathius. Beliau menjelaskan kata per kata beserta etimologi kata, baik dalam bahasa Ibrani pun dalam bahasa Yunani. Lalu dikontekskan dengan aplikasi pastoralnya.







