Dijelaskan, sadar ataupun tidak budaya digital ini telah mempengaruhi pola pikir (mind set) dan gaya hidup (life-style) manusia pada berbagai lapisan, suku, bangsa, agama, maupun golongan umur dari anak kecil, balita sampai pada kaum lanjut usia.
“Telephone, apalagi android atau gawai (gadget) bukan lagi barang mewah lagi. Ia telah menjadi alat komunikasi yang paling populer saat ini. Dalam satu rumah semua anggota memiliki handphone (HP), bahkan bisa ada yang memiliki lebih dari satu HP. Jadi orang dari berbagai kalangan dari kalangan atas sampai kalangan bawah sudah memiliki media komunikasi dari yang paling canggih ataupun yang basic dan standart (HP senter),” jelas pegiat perempuan yang aktif meneliti budaya Rote.
Saat ini, sebut dia, orang cenderung lebih memanfaatkan komunikasi audio-visual dari pada berkomunikasi secara face to face.
“Manusia juga semakin menjadi luntur relasi sosialnya. Kesibukan di dunia kerja, menjadi budak teknologi membuat manusia seolah-olah kekurangan waktu untuk bertegur sapa dengan sesamanya. Anak mengurung diri di kamar selama berjam-jam karena asyik dengan permainan video gamenya yang penuh dengan kekerasan dan peperangan. Orangtua juga demikian sibuk dengan urusan bisnis dan pertemanan di dunia maya sehingga lupa mengecek pekerjaan sekolah dan perkembangan psikologis anak. Kaum remaja lebih suka chating, curhat dengan teman-teman di luar sana dari pada curhat atau meminta bimbingan dari orang tua. Manusia menjadi kecanduan atau mabuk, adiksi (addictited) tehnologi,” kritiknya.







