Dunia Begitu Sempit
Di tempat yang sama kandidat doktor IAKN Kupang, Pater Fritz Meko, SVD, MA menegaskan, revolusi digital merupakan perubahan dari teknologi mekanik dan elektronik analog ke teknologi digital yang terjadi sejak tahun 1980 dan berlanjut sampai hari ini.
“Penemuan handphone oleh Martin Marty Cooper (1973) dengan berbagai aplikasi yang ada di dalam ponsel seperti: whatsapp, instagram, youtube, microsoft office, e-mail menyebabkan dunia begitu sempit,” tandasnya.
Menurut Pater Fritz, ada beberapa fungsi aplikasi: antara lain mempermudah pekerjaan, sebagai media hiburan, mendapatkan aneka informasi baru, media pertemanan atau komunikasi dan mempermudah kehidupan.
“Nah, semua aplikasi ini, memungkinkan komunikasi dalam segala bentuknya menjadi kondusif. Hidup seakan mudah dan semua yang diinginkan mudah diperoleh. Dengan adanya HP menyebabkan dunia bisa dikontrol dengan enteng. Kalau dunia bisa dilipat, maka dunia bisa dibuat baik dan dibuat rusak dalam seketika,” ucap Pater Fritz.
Misionaris SVD yang lama berkarya di Pulau Jawa dan Kalimantan ini lebih lanjut menuturkan, digitalisasi membuat kita kecanduan, terjadi proses dehumaniasi, demoralisasi, desakralisasi, kehidupan privat diintervensi, pengangguran karena konversi pekerjaan dengan robot, destruksi kreativitas, kurangi tenaga manual dalam dalam suatu organisasi, institusi atau industri, cybercrime, alone together, orang tua elektronik, guru elektronik, dan lain sebagainya.
“Di balik kemajuan dalam bidang-bidang kehidupan ini, masyarakat NTT juga masih punya “setumpuk” kelemahan atau kekurangan. Masyarakat NTT sebenarnya masih tergolong masyarakat pre-literer. Sehingga dengan masukanya media komunikasi digital, menyebabkan masyarakat NTT “bingung sekaligus euforia” lalu membuat mereka seperti mengalami disorientasi,” tutur Pater Fritz, sambil tersenyum.







