Kawan ku…
Katamu benar, “Sayangnya si Farisi itu telah tahu dan mau untuk memakai ‘Bait Allah demi kebesaran namanya.’ Dan gunakan ‘kemalangan dan kehinaan orang-orang lain, termasuk si pemungut cukai itu untuk proklamasi dirinya sendiri sebagai ‘orang saleh dan terbilang sebagai kaum senonoh.’
Namun kawan ku…
Dan untuk kita berdua? Tentu tak begitu saja Tuhan bakal ampuni segala kedurjanaan kita.
‘Merendah, dan memukul diri penuh sesal, sambil berucap “Kasihanilah kami orang yang berdosa ini” itulah yang mesti kita lewati dengan kebesaran hati.
Sebabnya, kawan ku..
Dalam kebersamaan dengan sesama, pun dalam peziarahan di kesementaraan bumi ini, kita sungguh berharap bahwa kita ‘bakal pulang, kembali pada akhirnya sebagai orang yang dibenarkan Allah. Dan bukannya sebagai orang selalu tangkas membenarkan diri di hadapan Allah; dan merasa diri selalu dan wajib (lebih) benar dan soleha di antara sesama. Mari kita saling memandang dalam kasih persaudaraan.
Verbo Dei Amorem Spiranti
Tuhan memberkati
Amin







