Oleh Pater Kons Beo, SVD
Bacaan I Hosea 6:1-6
Ref: “Aku menyukai kasih setia, dan bukan kurban sembelihan”
Injil Lukas 18: 9 – 14
Lukas 18:11 : “Karena aku tidak sama seperti semua orang lain” (Quia non sum sicut ceteri hominum)
Kawan ku…
Bila kupikir-pikir sepintas, maka ada benarnya juga si Farisi itu. Kewajiban agama berupa doa – puasa – dan bersedeka sepersepuluh dari penghasilannya telah ditaatinya. Serius!
Tak hanya itu kawan ku…
Jelas-jelas si Farisi itu bukan tipe ‘manusia eror yang ciptakan banyak kisah tak sedap.’ Ia tak bersikap aneh-aneh dengan stigma penyakit masyarakat padanya. Semuanya jauh dari dirinya. Sebab, iya memang benar, si Farisi itu BUKAN: perampok, orang lalim, pezina, atau selevel dengan pendosa ala si pemungut cukai itu.
Namun kawan ku…
Kau menyentakku sadarku kembali. Bahwa ada titik suram dari si Farisi itu dalam ‘doanya’ di Bait Allah. Dan akhirnya kusadari bahwa itulah titik ‘aku-ego si Farisi’ yang ditempatkannya benar-benar sebagai pusat.
Kau benar, kawan ku…
Katamu, ‘Si Farisi itu tak sedang berdoa. Ia hanya ‘paksa Tuhan’ untuk memandang kesalehan dan bahkan mengakui kesusilaannya yang sedikitpun tak cemar! Sebab ia tak terbilang sebagai kaum tak senonoh, saat ia bandingkan dirinya dari kebejatan semua yang punya nama amis dan anyir di masyarakat.
Wah, kawan ku…
Sekiranya si Farisi itu punya hati untuk sanggup mendoakan si Farisi? Untuk hadir sebagai tanda berkat, dalam tanda persahabatan untuk mengajak si pemungut cukai itu untuk berbalik dan kembali? Dan ia pun larut dalam doa bersama? Nyatanya tidak!







