Walaupun Ormas Beta Timor memiliki jaringan aktif di 24 kecamatan, lomba tahun ini baru diikuti oleh 9 MPC. Herry menyebut hal ini terjadi karena kendala kesibukan pengurus di wilayah masing-masing.
“Saya yakin ini awal yang baik. Dengan melihat antusiasme hari ini, saya optimis tahun depan semua MPC akan ikut,” ujar Herry dengan optimis.
Herry menambahkan, lomba paduan suara ini akan dijadikan sebagai agenda tahunan organisasi, lengkap dengan piala bergilir dan piala tetap untuk mendorong semangat kompetisi yang sehat dan berkelanjutan.
“Kita sudah siapkan piala bergilir. Namanya saja piala bergilir, artinya harus diperebutkan setiap tahun,” ujarnya sambil tersenyum.
Memasuki usia lima tahun, Ormas Beta Timor terus berfokus pada penguatan kaderisasi dan konsolidasi internal. Salah satunya melalui program Latihan Kepemimpinan Kader (LKK) yang telah digelar dua kali hingga tahun ini.
“Beta Timor bukan lahir dari kemewahan, tapi dari ketulusan hati. Kami ingin hadir nyata di tengah masyarakat, bukan hanya lewat program, tapi lewat aksi sosial yang konsisten,” ujar Herry.
Sebagai wujud nyata pengabdian, Ormas Beta Timor aktif menyediakan ambulans gratis dan bantuan peti jenazah bagi masyarakat yang membutuhkan, terutama di daerah-daerah terpencil.
“Kami mungkin baru lima tahun, tapi kehadiran kami sudah memberi dampak. Beta Timor akan terus menjadi rumah perjuangan yang terbuka bagi siapa pun yang ingin berkarya dan melayani,” pungkas Herry.
Sementara itu, salah satu peserta dari Kecamatan Biboki Tanpah, Yuventus Kaesnube, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan ini. Ia menilai bahwa lomba paduan suara bukan sekadar ajang seni, tetapi juga wadah pemersatu berbagai elemen masyarakat di TTU.





