“Ini kan event tahunan, seharusnya sudah dipersiapkan termasuk dukungan anggaran. Jangan pemain pulang hanya diberi beras 1 karung dan bubur kacang. Kenapa anggaran begitu sedikit diberi ke bidang olahraga, padahal ada anggaran? Sepertinya KONI ketakutan,” katanya.
Ia juga menyoroti KONI Flotim yang belum pernah mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran di lembaga DPRD.
“Selama ini pertanggungjawabannya hanya di BKAD saja. Secara kelembagaan tidak pernah. Kita beri anggaran tapi tidak pernah ada pertanggungjawaban. Maka jangan heran KONI hanya diberi sedikit anggaran. Apapun jenis olaraga kita harus anggarkan besar. Intinya harus dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Menanggapi hal itu, Ketua KONI Flotim, Ahmad Bethan, mengatakan selama ini KONI selalu mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran sesuai alur APBD.
Sebelum melakukan pertanggungjawaban, pihak BPK juga melakukan audit.
“Pertanggungjawabannya di BKAD sesuai alur APBD. Diaudit juga BPK dan di masa jabatan saya tidak pernah ada temuan penyalahgunaan dana,” kata Ahmad.
Sementara Manager Perseftim, Mini Temaluru, mengatakan seleksi pemain dilakukan secara profesional dan transparan.
“Tidak ada ruang ada pemain titipan. Tidak ada itu. Kami profesional melakukan seleksi. Seleksinya bukan mendadak, tapi sejak 2021 lalu. Tim seleksi independen juga melakukan pemantauan di Turnamen Divisi Utama,” kata Mini. (*/den)







