Air Mengalir
Lalu dari mana ia menimbah semua kebijakan dan prinsip yang mau ia terapkan selama periode singkat 3 tahun menjadi Bupati TTU? Baginya, semuanya berinspirasi dari perjalanan hidupnya sebagai ASN sejak tahun 1985 hingga pensiun pada tahun 2019 yang lalu.
Ia mulai dari bawah dan menjajaki karirnya secara perlahan. Pelbagai jabatan diembannya. Setelah menjadi Camat Biboki Utara (1999-2003), berbagai jabatan sebagai eselon 2 ditempatinya. Bisa disebut ayah dari 3 anak ini menduduki hampir semua jabatan. Ia awali dari Sekwan (2003-2007), lalu jadi Kadis Pertanian dan Perkebunan (2007-2009). Dua tahun (2009-2011) menjadi Kadis PPO dan 2011-2015 jadi Kadis Pemberdayaan Perempuan dan KB.
Selanjutnya 3 tahun berikutnya lulusan FIA Undana 1985 itu hanya jadi staf ahli. Beruntung di penghujung dedikasi, ia masih dipercayakan menjadi Kadis PMD (2017-2019). Singkatnya, kalau soal pemerintahan ia telah memahaminya dengan baik. Karena itu ketika dipercayakan menjadi bupati, yang ia lakukan ada dua hal, demikian tandasnya.
Di satu pihak, setelah menjabat di berbagai posisi, ia sangat yakin bahwa pertanian (dalam arti luas) adalah bidang unggulan bagi TTU. Sebagaian besar orang TTU yang sukses itu dibiayai dari hasil pertanian. Karena itu sektor yang menghasilkan 39% dari PAD itu harus dikelola secara baik.
Ia apresiasi akan aneka terobosan di bidang pertanian tetapi yang masih menjadi kendala adalah soal air. Inilah akar masalah yang harus diselesaikan bersama. Untuk itu menyambut 100 tahun Kefamenanu, ia yakin bahwa ketika masalah air ditangani, maka bidang lain akan terdongkrak produksi pertanian.



