Egoisme vs Altruisme? (Sekadar Satu Dua Gempa Susulan)

kons beo 1

Oleh Pater Kons Beo, SVD

Seorang perempuan muda jadi teman bicara. Itu terjadi di penerbangan Batik Air Labuan Bajo – Jakarta baru-baru ini. Lupa tanya namanya.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Setelah ‘hanya dua pertanyaan’ dari ku, perempuan muda itu berkisah tentang perjalanannya ke Flores. Dan itu untuk pertama kalinya ia ke Flores. Ini semua demi misi kemanusiaan. Ini seputar kisah Gempa Bumi 15 Agustus 2026 itu dan semua akibat mirisnya.

Tampak semangat ia berkisah tentang perjalanannya dari Jakarta, Kupang, Ende dan akhirnya menuju Reo, di wilayah utara Manggarai. Kutahu pada saatnya, perempuan itu adalah anggota dari sebuah Badan Amal Gereja Protestan. Tak lupa, beberapa saat sebelum landing, ia mohonkan doa dan berkat dariku.

Dari raut wajahnya sekilas tertangkap harapan tak tersembunyi. Di balik kata, gaya bicaranya, terbaca adanya ekspetasi personal itu. Di balik hadir, sikap, serta varian perbuatan amal karitatif ada harapan nyata pun tersembunyi untuk dirinya.

Mungkinkah perempuan muda itu ke Flores (Reo) tanpa perhitungan demi diri sendiri? Katakan saja tanpa payung atau bendera egoisme? Untuk tak berkiblat pada pemuasan diri sendiri? Tak ada kesan itu.
Sepertinya ada ‘ruang-ruang yang masih kosong dalam diri’ yang ingin dipenuhinya melalui petualangan karitatif di Reo. Ia ingin didengar dan diakui sebagai ‘orang baik.’ Setidaknya demikian.

Tentu ini bukan area justifikasi moral antara benar atau salah motivasional di balik semua aksi ‘buat baiknya itu.’ Sekiranya kita berakar pada pikiran Ayn Rand, seorang filsuf dan penulis perempuan kelahiran Rusia, maka ada yang dapat dimengerti:

Pos terkait