Egoisme vs Altruisme? (Sekadar Satu Dua Gempa Susulan)

kons beo 1

‘Sungguh rasional dan wajar bagi manusia untuk mengutamakan dirinya sendiri. Setiap relasi sosial, tindakan, atau hasrat harus dinilai berdasarkan seberapa besar manfaatnya bagi Anda sebagai individu. Semakin sesuatu itu memuaskan kepentingan pribadi Anda semakin besar pula motivasi Anda untuk bertindak.’

Bagaimanapun…

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Kisah perempuan muda itu tak terbelenggu mati oleh rantai egoisme. Sebab terasa pula adanya getaran altruisme. Ziarah karitatif menuju Flores (Reo) dapat ditilik pula sebagai ‘perlawanan altruisme versus egoisme.’

Dan teman bicaraku itu pun bisa berkisah bagaimana perjuangan dan kesediaannya demi sesama. Saat segala dirinya dipertaruhkan demi apapun di kisah bencana itu. Tetapi, apakah segalanya menjadi sekian mudah? Dari egoisme (mutlak) menuju altruisme bukanlah satu dinamika entengan.

Jika kembali menyisir pikiran Auguste Comte, Filsuf Prancis, maka otoritas pikiran bisa menjadi satu kekuatan besar untuk menggerakkan egoisme menuju altruisme. Comte memang punya keyakinan, ‘Altruisme bisa menang, tetapi hanya jika individu (kita) meluangkan waktu untuk melatih dan memperkuatnya.’
Tak gampang memang!

Sebab?

Di baliknya, tetap ada apa yang disebut ‘kekuatan afektif’ yang diyakini Comte amatlah egois. Itulah kondisi alami setiap individu untuk mencintai atau berkiblat penuh pada orientasi demi dirinya sendiri.

Sekiranya rantai egoisme terlalu erat mengikat, maka ancaman terhadap stabilitas umum (bersama) jadi tak terhindarkan. ‘Selalu ada keinginan yang tak terkendali untuk dapatkan ‘lebih dan harus selalu lebih.’ Tidakkah ini sungguh membahayakan? Altruisme jadi semakin sulit, dan bahkan tak mungkin.

Pos terkait