Egoisme vs Altruisme? (Sekadar Satu Dua Gempa Susulan)

kons beo 1

Tetapi kuyakin teman bicaraku sejenak di Batik Air, perempuan muda itu, miliki otoritas pikiran yang mumpungi dan sehat. Ia tak sangkal akan aura egoisme dalam dirinya. Sedikitnya ia berharap akan pujian dan pengakuan, walau sederhana.

Namun, kewibawaan akal budi miliknya mengingatkannya untuk keluar dari egoisme kepada altruisme. Dari alam dan lokasi aman sebelumnya menuju titik-titik bencana yang mendebarkan. Dari rasa nyaman hati sendiri (egoisme) kepada sikap batin dan tindak solider dengan dan demi yang lain (altruisme).

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Sepertinya ia alami kisah dirinya yang mesti bebas merdeka.
Egoisme yang sempit dan tak terkendali adalah ‘bentuk kolonialis pada diri.’ Terjajah oleh selera atau keinginan yang tak pernah puas dan selalu ingin lebih.

Tetapi altruisme adalah ‘sebentuk gema proklamasi diri yang bebas merdeka itu. Yang sanggup terbang melayang jauh melampaui diri sendiri. Demi menggapai sesama dan dunia lain yang terluka dan masih tak tentu nasib.

Yakinlah! Perempuan muda itu tak sendiri di titian antara ‘egoisme dan altruisme.’ Dalam alam bencana ini telah hadir dan tampil banyak pejabat dan orang besar negeri. Entah apa motivasi di baliknya, hanya kuasa Langit yang tahu telak dan rahim Bumi yang memaklumi semuanya.

Demikianpun para ulama, petinggi dan pimpinan agama yang tak mungkin nyaman di istana, untuk enggan merasa senasib dan sepenanggungan bersama semua yang terdampak. Tak mungkin! Sebab, semuanya punya otoritas pikiran yang menderang dan aura hati nan terang bersinar serentak penuh teduh. ‘Untuk sungguh menangis dengan yang menangis.’

Pos terkait