Tetapi air yang secara filosofis mengalir ke bawah, juga menjadi simbol yang sangat penting dalam memajukan TTU. Pria lulusan SDK Manufui, SMP Xaverius, dan SMA Pelita Karya Kefa ini mengatakan bahwa politik telah memecahbelahkan. Banyak orang menjadi pemimpin dan setelahnya yang dilakukan adalah membalas dendam. Yang menang merasa perlu menggeser semua yang berlawanan dengannya. Yang kalah pun menyia-nyiakan energinya untuk mengritik apapun yang dibuat lawan.
Inilah politik balas dendam yang seakan lumrah. Tetapi baginya, seperti air yang selalu mengalir ke bawah, maka yang ia lakukan hanyalah meneruskan filosofi air yang selalu mengalir ke bawah dan setiap tanah yang diairi akan memberi kehijauan pada tanaman. Demikian hidup yang mau ia baktikan hanya dalam jangka waktu 3 tahun jadi bupati. Ia ma merangkul semua orang potensial untuk terlibat dalam membangun TTU.
Ia sadar, TTU apalagi dengan kehadiran 5 Perguruan Tinggi, memiliki tenaga potensial. Mereka semua harus dirangkul, diberi peran untuk terlibat dalam membangun. Ia ingin politik yang dibangun beradab dan saling mendukung satu sama lain daripada menghabiskan energi untuk balas dendam.
Politik yang baik adalah yang membuat orang lain hidup, seperti air yang memberi hidup. Karena itu kalau masyarakat miskin dan kaum difabel yang diberi prioritas, itu hanyalah merupakan perwujudan dari prinsip hidup seperti itu.
Kisah kecil yang hanya 1 jam lebih itu membuat saya terus berpikir di Kereta Tanah Abang – Jurang Mangu. Saya hanya bilang, TTU bersyukur punya pemimpin seperti ini. Terima kasih Pak Juandi David untuk inspirasinya di sore 17/6/2022





