Caranya berbicara dan mendengarkan serta cara menjelaskan, membuat saya nyaris tak henti lagi melancarkan aneka pertanyaan. Saya bertanya dan baru sadar bahwa sesuai aturan terbaru, ia dan Eusabius Binsasi hanya akan jadi pemimpin selama 3 tahun karena 2024 nanti sudah ada pilkada serentak lagi. Karena itu kalau melihat perhelatan politik yang melelahkan pada tahun 2020, rasanya baru selesai. Apalagi ia baru menjabat pada 27 Februari 2021.
Tetapi masa bakti yang hanya 3 tahun itu tidak menghadirkan kegalauan. Walapun waktu singkat itu diperparah pula oleh pandemi, tetapi baginya menjadi pemimpin bukan soal lamanya waktu tetapi kualitas pekerjaan yang dirasakan terutama oleh mereka yang sangat terpinggirkan.
Suami dari Dra. Elvira B.M. Ogom itu mengatakan bahwa ia lebih fokus kepada penyediaan rumah layak huni kepada masyarakat miskin dan kaum difabel. Tahun 2022 misalnya ditargetkan 400 rumah di 40 desa/kelurahan. Sementara bagi keluarga yang miskin tetapi punya kemampuan beternak dan ada lahan, akan diberikan 5 ekor sapi untuk dikembangkan. Bila dalam 5 tahun bisa dikembangbiakan maka secara ekonomis sudah akan sangat membantu.
Lalu apakah karya sederhana itu memiliki efek politis untuk pilkada 2024 nanti, demikian tanya saya. Ia hanya menatap sambil menikmati nasi uduk dengan sedikit lauk pauk seadanya dan berkata: “Mereka memang pantas mendapatkan itu karena mereka sangat membutuhkan pertolongan. Kalau kita hanya melayani orang yang akan memberikan suara maka nilai plusnya di mana kita sebagai pemimpin? Untuk itu kami tekad untuk tekun melayani plus,” demikian jawabnya membuat saya kehabisan kata-kata untuk bertanya lagi.





