Saya hanya bilang, “Itu salah. Yang benar itu Eropa kalah lawan Afrika!” Namun, teman lain yang berasal dari Togo – Afrika segera menyelah, “Yang kalah itu Spanyol. Jangan mulai pakai nama agama dan benua, sana-sini. Akui saja dengan rendah hati bahwa kalian Spanyol tu kalah.” Wah, ini macam sudah serius.
Jika seorang pemain beragama Katolik masuk lapangan dan buat ‘tanda salib,’ dia tidak minta untuk menang, apalagi harus menang. Tidak! Tetapi sekiranya ‘Tuhan menguatkannya untuk menerima hasil apa saja dari pertandingan yang bakal ia mainkan.’ Tidak ada hubungan dengan tesis ‘doaku terkabul, kami memang harus menang. Atau apalagi agama dan Tuhan kamilah yang menang dan benar.’ Ini yang bahaya…
Mari menanti kehebatan Maroko yang sudah mencampakkan Spanyol versus Portugal yang telah menggilas Swiss. Adiós, España… “Selamat Jalan Spanyol. Cerita Piala Dunia Qatar 2022, biarlah cukup sampai di sini….”
Verbo Dei Amorem Spiranti
Penulis, rohaniwan Katolik, tinggal di Roma





