Dari pemetaan jumlah korban maka bisa terjawab alasannya. Dalam logika normal, yang lebih diutamakan adalah korban yang meninggal dunia (Adonara dan Lembata). Logika yang ada bisa saja mengatakan bahwa ketika napas masih ada, maka orang masih bisa berusaha. Tetapi kalau korban sudah meninggal, maka prioritas perlu diberikan kepada mereka dan keluarga yang ditinggalkan. Lebih lagi kalau melihat Lembata, maka ini adalah bencana lanjutan dari letusan Ile Lewotolok yang sejak 29 November 2020 hingga kini masih mengeluarkan letusan.
Dari sini bisa terjawab bahwa kunjungan Jokowi (menurut pendapat saya) tidak terkait dengan ‘tingkat diplomasi’ orang Flores di Jakarta. Ia sepenuhnya dilakukan atas pertimbangan logis di atas yang hemat saya itulah yang jadi dasar pertimbangan. Ia tidak memiliki kaitan dengan ‘diplomasi’ yang bisa saja menyebabkan rasa iri hati. Masyarakat di pulau lain di NTT (Timor, Alor, Sumba) tidak bisa menjadikan alasan untuk mendiskreditkan politisinya di Jakarta yang tidak ‘menggiring’ Jokowi untuk mengunjungi daerah mereka.
Yang mungkin merasa tidak mengalami kunjungan kali ini adalah Alor. Korban 28 orang itu tidak sedikit tentunya. Namun korban di Alor bersebaran di 3 kecamatan: Alor Tengah Utara, Pantar Tengah dan Pantar Timur. Hal itu menunjukkan bahwa bila diadakan kunjungan maka tidak hanya satu tempat tetapi 3 tempat dan tidak akan difokuskan pada satu tempat.
Perhatian Menyeluruh
Harapan atas kunjungan Jokowi tentu punya banyak alasan. Kegesitan menjawabi permasalahan di lapangan merupakan alasan yang paling utama. Di tengah bencana ia bisa langsung perintahkan untuk mengadakan relokasi seperti yang terjadi di Lembata dan Adonara. Tak heran mengapa ia membawa Menteri PUPR agar segera menindaklanjuti.





