“Brasil, Lagakmu Itu Seni, Namun Sungguhkah Menyakitkan?”

Kons beo5 1

Ini belum lagi  jika mesti teringat lagi goyang Samba yang sungguh layu 1 – 7 di tangan Der Panzer, Jerman. Di hadapan publik sendiri, di Piala Dunia 2014 itu, Brasil tenggelam dalam ironia Mineirazo. Iya pembantaian di Estadio Mineirao. Lagi-lagi di hadapan publik sendiri.

Bisa terjadi, bertolak dari kenangan pahit itu, Tim Samba belajar untuk  berwaspada di setiap laga berikutnya. Apalagi di level Piala Dunia. Tak boleh satu tim lawan apa pun yang dianggap kecil. Enteng untuk dikalahkan. Tetapi, tidakkah itu gambarkan pula arus hati dan arus hidup manusia?

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Terkadang terlalu percaya diri juga sudah jadi awal dari satu bencana. Itu yang dapat ditangkap dari kisah pahit Maracanazo. Namun, di hari-hari di Qatar, Brazil tampaknya sudah berbenah. Tak lengah untuk tidak berujung konyol pada hasil pertandingan, seperti di kisah Mineirazo itu. Tapi, itulah up and down dari sebuah Tim sekelas Brasil. Juga dari jalan hidup setiap anak manusia. Yang penuh dengan light and shadow-nya. Bersinar dan redupnya.

Bagaimana pun ada hal lain yang sepantasnya dimaknai. Ingatlah kembali Tim Samba malam tadi, yang menari-nari di pinggiran lapangan setelah setiap gol tercipta. Itulah ekspresi wajar. Di batas normal dalam sebuah pertandingan.

Mereka pasti tak sedang ‘bikin panas’ atau sepertinya mau ‘ngongi’ (ungkapan orang Ende-Flores, artinya ‘mengejek-ejek’) Timnas Korsel. Atau bikin tambah larut dalam kesedihan fans Korea Selatan. Tidak! Sekali lagi, itulah tanda sukacita. Yang sulit terbendung.

Di titik sebaliknya? Lihatlah para pemain Korsel. Mereka tetap teduh hati. Tak merasa di-ngongi oleh Neymar dkk dengan goyang (Samba) itu. Mereka tetap damai di hati. Tetap jadi petarung demi kemuliaan Negerinya. Apa mungkin kita sanggup belajar dari aura Piala Dunia seperti ini?

Pos terkait