Di pertandingan di suatu kampung, jelang Paskah (tiba-tiba saya teringat lagi kisah itu), Tim yang merasa sudah kalah, tanpa harapan lagi untuk sekedar seri, apalagi menang, mulai ‘maen kuda kayu,’ kasar ‘ngeri mati punya.’ Sekedar cari hal agar pertandingan jadi onar. Dan buruknya lagi agar pertandingan dihentikan panitia! Tanpa kejelasan hasil akhirnya.
Pemain lawan yang cetak gol dan ungkapkan kegembiraannya, itu sudah ditafsir sebagai lagak yang bikin panas. Ujung-ujungnya ‘serbu masuk lapangan.’ Wasit yang tidak bersalah jadi sasaran. Dikejar atau ditonjok. Tiang gawang dicabut. ‘Ada baku kejar dan baku sikat di lapangan.’ Hasil akhir pertandingan? Tentu tidak mungkin terbaca di papan skor, tetapi harus dihitung di UGD Rumah Sakit. Berapa yang parah dan berapa yang ringan?
Seorang teman saya yang memang ‘tidak suka Tim Samba – Brasil’ semalam kontak pas setelah pertandingan Brasil vs Korsel berakhir. Dia nonton hanya untuk menanti keajaiban Korsel kuliti Brasil.
Bukannya kagum akan permainan Brasil (itu sudah pasti) teman itu hanya bilang, “Eja, itu Neymar dengan dia pu kawan-kawan, kalo di Stadion Marilonga berani dorang (mereka) menari-menari model begitu yang bikin emosi, itu tu berarti kena faò” (bogem).
Ternyata, pertandingan sepakbola, kapan dan di mana saja, tak hanya menuntut kecakapan artistik bermain para pemainnya. Tidak hanya itu. Tetapi, bahwa para fans, para suporter di luar itu mesti cakap pula dalam kontrol emosi. Jika tidak demikian, maka selalu saja ujung onarnya di setiap pertandingan. Selalu ada tragedi yang sungguh merusakkan euforia yang mengasyikkan.







