Tidak hanya menyatakan harapan, Bapa Uskup Budi juga mengapresiasi tradisi panjang KAE yang dirumuskan dengan baik dalam sejumlah musyawarah pastoral (Muspas). Terutama, fokus pada komunitas umat basis (KUB) peduli ibu hamil dan KUB ramah anak. Itu artinya, Gereja lokal menaruh perhatian amat serius pada tumbuh kembang anak yang pada gilirannya juga berarti kondisi kesehatan masyarakat pada umumnya.
Untuk semua tujuan baik itu, Bapa Uskup Budi mengajak kita semua untuk mempunyai hati bagi Gereja lokal KAE. Memperhatikan dan memberi perhatian adalah kunci.
“Ayo Bangun NTT!”
Harapan dan keprihatinan Uskup Agung Ende ini kiranya sejalan dan bisa dibaca juga dalam konteks program “Ayo Bangun NTT” dari Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena dan Wakil Gubernur Johni Asadoma (Melki-Johni). Sejak awal, Melki-Johni melihat bahwa masalah utama NTT adalah tengkes (stunting) dan kemiskinan (ekstrem).
Dalam pidato pembangunan HUT ke-80 RI (Sabtu, 16/8/2025), Gubernur Melki Laka Lena melaporkan sejumlah hal terkait kondisi ekonomi dan pembangunan NTT, termasuk soal tingkat kemiskinan yang turun menjadi 18,60% pada Maret 2025 dibandingkan 19,02% pada September 2024. Sementara itu, prevalensi stunting berada pada angka 37% (SGGI). Hal terkait lainnya adalah pengangguran terbuka yang berada pada level 3,23% per Februari 2025.
“Fokus utama kami adalah pembangunan pro-rakyat, pengurangan ketimpangan, dan terwujudnya kesejahteraan yang berkeadilan,” tegas Gubernur Melki Laka Lena.
Dua masalah utama NTT, stunting dan kemiskinan ekstrem, akan diatasi dengan berbagai cara dan melibatkan semua pihak yang berkehendak baik. Optimalisasi kekuatan pemerintah(an) dan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk perusahaan swasta dan warga NTT diaspora, akan terus digerakkan.







