Apakah semuanya itu adalah gambaran umum karakter dan bawa dirinya orang-orang Jepang, yang sungguh junjung tinggi kedisiplinan, perjuangan serta pantang menyerah?
Di atas semuanya, mari kembali pada strategi jitu Hajime Moriyasu, pelatih Jepang. “Kami akan mengerahkan performa terbaik kami, bermain agresif dan dengan ketekunan,” katanya. Lanjutnya lagi, “Sekaranglah waktunya untuk menunjukkan kepada dunia apa yang bisa kita lakukan.”
Dan, omong-omong tentang strategi, teman saya segera ajak ‘pulang ke tanah air.’ Dia bikin satu pertanyaan simulatif seadanya, “Jika area sidang pengadilan kasus kematian Brigadir Josua ibarat satu pertandingan di Piala Dunia, strategi apalagi yang diracik Ferdy Sambo dan Ibu Putri terhadap saksi-saksi ‘punya mereka’?
Saya pun hanya jawab sekadarnya saja. Dan barangkali salah juga, “Sekarang ini banyak saksi pro Sambo sepertinya tertangkap offside oleh hakim garis, dan terdeteksi curang oleh VAR. Tinggal saja wasit pengadilan jatuhkan pinalti, ya putusan pada waktunya…”
Dum spiro spero. “Selama aku bernafas, aku masih berharap.” Iya, masih punya harapan! Dan spirit itulah yang sudah dibuktikan Tim Samurai Biru semalam. Dan mereka menang.
Jika memang Ferdy Sambo dan sahabat-sahabatnya ingin juga gunakan moto ini, maka pertanyaannya: Berharap akan apa dan seperti apa? Yang jelas pasti tidak untuk sebuah kemenangan a la Tim Nasional Jepang.
Verbo Dei Amorem Spiranti
Penulis, rohaniwasan Katolik, tinggal di Roma







