Karena itu, sebagai orangtua, umat beriman dan warga masyarakat kita pun mesti menunjukkan kasih sejak seorang bayi dikandung dalam rahim ibunya, dan terus mendampinginya dalam proses menjadi dewasa melalui pendidikan yang berkualitas. Melalui pendidikan kita membentuk pribadi-pribadi yang memiliki identitas dan berusaha menghidupinya secara konsisten. Dan melalui pendidikan dan pembinaan berlanjut kita berusaha untuk terus menguatkan identitas tersebut. Ya, identitas. Identitas sebagai suami istri ditunjukkan di dalam kesetiaan memelihara kekudusan perkawinan, kesetiaan sebagai imam atau biarawan/ti dihidupi dalam tekad menghidupi identitas sebagai hamba Tuhan dan saudara bagi yang lain, bukan hamba kekuasan dan harta. Penulis surat Ibrani menegaskan agar kita tidak boleh menjadi budak uang dan nafsu.
Ketiga, pembaruan solidaritas. Kasih persaudaraan adalah solidaritas, berbela rasa dengan orang lain, mendukung dan memperhatikan orang lain, teristimewa yang sedang mengalami kesulitan dan penderitaan. Tembok egoisme yang membuat orang bersikap dingin di hadapan penderitaan orang lain, diatasi oleh solidaritas. Solidaritas dengan mereka yang tidak berumah, yang ketiadan tumpangan, yang kehilangan pegangan dalam hidup. Solidaritas tidak mengucilkan dan membuang orang-orang terhukum, tetapi tetap menghormati martabat mereka sebagai anak-anak Tuhan dan saudara-saudari dalam ziarah yang sama. Dia menjadi nyata dalam kesediaan untuk saling menegur dan mengingatkan, sebelum terlambat.







