Artinya, tariklah pesan bagi dirimu saat engkau melihat hidup, mengenang pelayanan dan merenungkan akhir hidup mereka. Dan saya yakin, pesan utama dari mereka semua adalah: kasih persaudaraan. Mereka hidupi kasih persaudaraan, dan mewariskannya kepada kita. Mereka adalah orang-orang yang sungguh mengasihi kita, memberikan dirinya dalam pelayanan kegembalaan karena kasih akan kita, dan dengan itu memberi pesan dan menjadi contoh bagi kita untuk saling mengasihi, sebagaimana kita dengar dari Bacaan Injil tadi. Dan mereka sungguh mengasihi kita, karena mereka membiarkan diri dikasihi oleh Yesus, Sang Gembala Agung, yang menyerahkan hidup-Nya untuk para saudara dan sahabat-Nya.
Kasih persaudaraan adalah warisan, bukan hanya dari para pemimpin Gereja. Itulah juga yang dihidupi dan diwariskan kepada kita oleh para leluhur dan orang tua kita di kampung-kampung, para petani dan nelayan sederhana, yang dalam serba keterbatasannya, tanpa banyak mengeluh, bekerja keras menghidupi keluarga dan memenuhi kewajiban sebagai warga masyarakat.
Kasih persaudaraan itu kita tunjukkan dalam relasi lintas batas agama, karena kesadaran bahwa kita berasal dari Tuhan yang sama. Kasih persaudaraan lintas menjadi nyata, juga pada tanggal 10 Agustus 2024, ketika saya diterima di Ende oleh para tokoh dan umat berbagai agama.
Kasih persaudaraan bukanlah sekadar sentimen atau rasa suka, perasaan dekat karena kepentingan tertentu. Dia adalah ikatan tanggung jawab demi kebaikan mereka yang dikasihi. Kasih persaudaraan berarti membela ketika orang ditindas dan diperlakukan tidak adil, mencegahnya menjadi korban kekerasan atau perdagangan manusia, dan harus menderita karena berbagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan dan kekayaan.







