Tulisan kita bisa menantang pendapat orang lain dengan argumentasi yang siap diperdebatkan di ruang sosial. Tanpa kita sadari, pikiran yang kita rancang dalam sunyi di kamar memiliki energi spiritual untuk memengaruhi gerak peradaban zaman di ruang sosial. Tulisan kita, betapa pun sederhana akan membuka cakrawala pemikiran (intellectual exercise). Kita bisa “bertemu” dengan semua orang yang membaca tulisan kita, dari beragama latar belakang sosial dan meruntuhkan tembok pemisah antara penulis (kita) dan orang lain (pembaca). Maka aktivitas menulis mesti kita lakukan dengan hati, kesukacitaan, kegembiraan berbagi gagasan serta ilmu pengetahuan.
Terakhir, menulis butuh keberanian menghadirkan gagasan di ruang publik. Keberanian itu berbasis pada amunisi pengetahuan sebagai buah dari kegiatan membaca. Membaca dan menulis adalah dua aksi yang “bersaudara kandung.” Keduanya saling memperkaya, saling menguatkan, saling menyokong. Walau pun gadget sudah menyerbu dunia dan melibas generasi muda kita sejak usia amat belia, biasakan membaca buku karena jembatan emas menuju menulis adalah membaca. *
Perintis Oring Literasi Bukit Waikomo







