Mari kembali ke tesis awal. Mungkinkah sebuah hinaan dan caci maki dapat menjadi awal dari sebuah berkat? Bisakah hal-hal yang menusuk dan bikin sakit hati dikaroseri jadi ‘kemarahan yang positif’? Yang bangkitkan semangat untuk bertarung lebih ‘mati-matian?’ Iya, dapat!
Itulah yang dibuktikan Messi dkk. Blessing in disguise, berkah terselubung, selalu mesti digali dari ‘kisah-kisah yang menyakitkan. Memang sungguh berat untuk meraihnya. Hinaan mesti dijawab dengan prestasi dan keunggulan.
Tetapi, apakah itu yang sanggup dilakoni penuh teduh dan dalam ketenangan batin di peta kehidupan sosial politik di Tanah Air? Kita sepertinya tak peduli lagi pada sasaran kebenaran yang sama-sama kita tujui. Sinisme dan bahkan sakarsme verbalik sudah sungguh meraja, misalnya, di konten-konten media sosial.
Kita sudah terjebak dalam awal perang kata yang sungguh saling melukai dan merendahkan. “Malvinasiasi,” katakan begitu, memang sudah jamak terjadi. Artinya, ‘yang suram, kelam, gelap,’ adalah prasasti kegagalan dan kekalahan yang langgeng auranya. Dan selalu diulang dan terus dibangkitkan kembali dalam satu kualitas relasi minor penuh benci dan ketaksukaan.
Kita adalah bangsa yang makin hari makin terbiasa untuk bakukan senyatanya: “Biarlah yang hitam menjadi hitam jangan harapkan jadi putih.” Karena ‘yang hitam itu dipastikan tak akan pernah menang lagi dalam apapun usaha pencitraannya.’
Kata teman saya, “Sehebat apapun Roy Suryo bersuara, misalnya, ia akan diseret pulang pada soal ‘sepele’ seputar panci dan seterusnya tetaplah panci; sehebat apa pun Refli Harun, Said Didu atau Rizal Ramli bernarasi, mereka telah dipastikan masuk kotak ‘pecatan’ dan begitu seterusnya dan seterusnya.”





