Paskah: Tuhan Menang Satu Putaran

Kons Beo8

Oleh Pater Kons Beo SVD
Benci, amarah, dendam, iri hati, penuh curiga, plus gelagat untuk memata-matai Yesus  semakin menebal dan membeku. Para elit religius di Yerusalem memang semakin tak nyaman di hati.

Yesus, si Nazareth itu, sudah terlampau tenar dan sungguh berdaya pikat di hati massa. Satu skenario licik pun dibangun: Ia penghojat Allah. Dan menurut hukum: Ia harus mati. Tak mungkin luput dari konsekuensi tragis itu.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Dalam pada itu, elit politik, kaki tangan penjajah Romawi, ternyata tak sedahsyat tampuk kekuasaan yang lagi digenggam. Suara massal, “Satu-satunya raja kami ialah Kaiser.”

Tak berhenti di situ, teror kuasa pun membentur hati Pilatus, “Kau bukanlah sahabat kaiser, sekiranya si penghojat dari Nazareth ini dibebaskan.” Pilatus sungguh kena mental. Jadi ciut nyali ia untuk segera ‘cuci tangan.’

Hasil kongkalikong ijtimah ulama Yahudi dan lalu merasuki hati kaum haus kuasa elit potitik tanah jajahan Romawi di Palestina, lahirkan koalisi dengan geliat konspirasi berdarah buat Yesus: DIA harus mati! Iya, Dia sepantasnya dihukum mati.

Lalu?

Segala strategi mesti dirapihkan dalam (seolah-olah) itulah suara rakyat yang sungguh menuntut. Dan terjadilah: Pilihan kematian tertimpah pada Yesus. Sebab, “Salibkanlah Dia! Salibkanlah Dia!” dari suara skenario itu terlampau tangguh. Yesus harus ditamatkan sesegeranya.

Dan Jumat Agung buat kita adalah drama kekalahan berdarah buat Yesus. Ia kalah telak di tiang kehinaan. Nampaknya semua sudah berakhir. Mungkinkah para elit keagamaan Yahudi di Yerusalem siap-siap rayakan kemenangan jaya? Apakah semuanya sudah selesai sejalan dengan suara di salib “selesailah sudah?”

Pos terkait