Jadi “omon-omon soal kemenangan” yang terindikasi oleh predikat dan juga gelar yang disandang pemain dan tim, rekam jejak dan pengalaman berlaga di level dunia, kepada siapa dan untuk tim manakah yang boleh mendapat julukan atau dimeterai sebutan “monster”?
Sebutan atau lebih tepat gelar “monster” bukanlah gelar resmi. Hal ini sangat beralasan karena secara konvensional, gelar tersebut bernuansa “seram” pada tataran pendengaran”. Personal atau tim yang menyandang “sebutan monster” memicu bayangan ke masa lampau di mana keganasan dan keseramannya serupa garda tempur Roma di zaman lalu yang menang perang dengan prinsip: “Veni Vidi Vici (Datang Lihat Menang). Emojinya sangat “tremendum et fascinosum” (Menyeramkan sekaligus mengagumkan), atau “ngeri-ngeri sedap” dalam sebuah konteks fisik serupa pildun 2026.
“Sebutan monster” mulanya terekam dari bincang-bincang para komentator pertandingan perdana pada fase grup H, antara Timnas Norwegia versus Irak, di mana Erling Haaland, pemain dari timnas Norwegia dalam laga perdananya di Pildun 2026 mendapat “sebutan monster”.
Apa alasannya sehingga bintang Club Manchester City itu disebut ‘monster’? Pada konteks sepak bola “sebutan monster” dapat dikenakan pada tim dan pemain. Bukan utamanya merujuk pada arti harafiah “makhluk monster,” yang merusak, mencabik-cabik dan memporak-porandakan apa dan siapa saja yang ada di hadapannya. Atau monster serupa malaikat maut yang siap mencabut nyawah.
Pertama, sebutan “monster” dapat dikenakan pada tim. Karena timnas dari negara peserta Pildun 2026 tersebut adalah tim yang kuat dan favorit juara. Tim yang punya banyak pemain bintang dan prestasi besar. Tim dan pemain-pemainya sangat kuat mental walau ada di bawah presur yang hebat dan dahsyat. Bahkan tercatat selalu menang dalam pertandingan-pertandingan penting. Tim yang memiliki “segala hal super”; baik dari segi pemain penya skil individu yang mumpuni, paham taktik dan sistem, punya visi-misi, maupun intelegensi tinggi, fisik dan agresi serangan yang lincah. Singkat kata tim yang mumpuni pada tataran iq, eq, fq dan sq.”





