Sementara sebutan untuk “pemain monster” adalah pemain yang sangat dominan atau luar biasa kuat. fisiknya kuat, posturnya tegap, serupa “gladiator” multi talent, skilful dan agresif. Pemain yang berdaya presur kuat di zona pertahanan lawan disusul serangannya yang mematikan -membuahkan gol. Ia tidak hanya “goal getter” tetapi juga “pemain elite” yang berpengaruh besar dalam pertandingan.
Visi bermainnya dipatok pada domain brilian. Skil permainnanya teraplikasi paten pada teknik bermain yang elegan saat “melumpuhkan” lawan. Eksistensi dan aksi individualnya mempengaruhi pertandingan, pemain dan permainan tim, juga bola, dan juga tim lawan, bahkan audiens sekalian dan juga pengadil lapangan. Sangat boleh jadi VAR dan Tim VAR tidak mampu merekam dan menelisik “teknik individual” berkaitan dengan “keuntungan” personal untuk timnya di “basic zone” dari tim lawan.
Atas deskripsi demikian, lahirlah pertanyaan: “Wajarkah Earling Haaland, pemain bernomor punggung 9 dari timnas Norwegia itu menerima kiasan “monster” kala berlaga di fase perdananya di Pildun 2006? Dan manakah pemain atau tim dari Asia yang masuk dalam nominasi kiasan “pemain atau tim monster” Asia ?
Mari teruslah menyimak seluruh laga Pildun 2026, yang di dalamnya para tim dari Asia beraksi supaya bisa menentukan siapakah dan manakah tim “monster” dari Asia untuk laga-laga bergengsi dan bermartabat di Pildun 2026?*
* Penulis, peminat bola





