Ingat saja dua gol Brazil kontra Serbia. Dua gol cantik milik Richarlison. Apalagi gol kedua itu serasa ada kombinasi tarian, akrobat, dan olahraga itu sendiri. Striker Richarlison, semalam, sungguh telah jadi simbol kesempurnaan jogo bonito.
Tataplah jalan hidup ini dalam gema teduh penuh keindahan. Hidup itu tertenun dalam kisah-kisah yang indah. La vita è bella, iya, life is beautiful. Tentu, ini bukanlah sebatas gema kata-kata berbau hedonistik. Yang ‘pura-pura digelontorkan hanya untuk menutupi kenyataan hidup penuh pilu dan pahit.’ Bukan..
Ada kehidupan yang tercecer dan terbengkelai. Namun, semuanya mesti dikembalikan ke dalam harmoni. Ada gerak hidup yang jauh panggang dari api irama hidup itu sendiri. Dan semuanya mesti dibetulkan kembali dalam keindahan.
Brazil, dengan jogo bonitonya itu, sepantasnya jadi daya pikat bagi kita. Mungkin tak hanya untuk tunjukkan gaya permainan sepakbola nan cantik, indah dan menawan. Tetapi, bahkan untuk mengajar kita untuk tetap sanggup melihat yang indah pada alam semesta, dan terutama melihat yang indah dalam diri sesama. Walau sebenarnya, kita sungguh dalam pertandingan kehidupan yang teramat serius.
Dalam semangat Portugal, kemenangan dalam hidup memanglah harus diperjuangkan sejadinya. Namun, jogo bonito Brazil mesti jadi inspirasi sejuk. Raihlah kemenangan hidup itu dalam keindahan dan kecantikan. Tidak kasar, berdaya maut, apalagi jika harus sungguh berintensi mematikan siapa dan apapun yang dianggap lawan.
Sekali lagi, tidak kah gol kemenangan Brazil – Richarlison itu indah?





