Senggolan Tipis Drama Wabup Ende, Mau ke Mana Gelora Politik?

Kons beo4

Oleh : P. Kons Beo, SVD

 “Ada banyak hal yang dapat menjatuhkanmu. Tetapi hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri.”  (Raden Ajeng Kartini, 1879-1904)

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Kisah Pelantikan Itu: Awal Sekaligus Akhir?

Bernada santun dan sungguh animatif. Itulah harapan Gubernur NTT, Viktor B. Laiskodat, pasca pelantikan Wakil Bupati Ende (27/1/2022).  Harapan itu disuarakan oleh Prisila Q. Parera, Karo Administrasi Pimpinan Daerah Setda NTT, yang jadi Juru bicara Pemprov NTT.

Intinya, ada ucapan rasa terima kasih atas segala dukungan dalam keseluruhan proses pemilihan hingga pelantikan Erikos Emanuel Rede sebagai Wakil Bupati Ende.

Sadar akan segala caruk-maruk dinamika penuh liku  menuju seremoni pelantikan ini, Gubernur Laiskodat pun punya harapan sejuk lainnya. Ini demi situasi kondusif di NTT, khususnya bagi warga Kabupaten Ende.

Gubernur menghimbau semua pihak untuk tidak lagi berpolemik tentang pelantikan tersebut, namun berkolaborasi untuk membangun NTT, khususnya Kabupaten Ende,“ demikian lanjut Prisila.

Yakinlah! Ada rasa gembira di hati masyarakat Ende. Yang dirindukan telah tiba saatnya. Erik Rede telah sah jadi wakil bupati ‘yang terpilih dan terlantik.’ Ia siap menjalankan amanat seluruh warga Kabupaten Ende. Bentrok boleh bentrok, toh akhirnya terlantiknya seorang wakil bupati, semuanya mesti pada teduh hati dan sejuk di jiwa.

Sayangnya, harapan gubernur ternyata terblokir serius. Situasi perlahan mencekam untuk menyimak penuh serius Surat Dirjen Otda Nomor 132.53/956/OTDA.  Bersifat penting. Dan punya perihal surat yang bikin perih di dada: “Penarikan Keputusan Menteri Dalam Negeri.”

Tak sempat berbulan madu sehari semalam, Erik Rede sepertinya langsung gugur dari jabatannya sebagai Wakil Bupati Ende. Sungguh mengharukan!

Tarung Opini Tak Terhindarkan

Adu opini tak terhindarkan. Lempar gagasan bermuatan banyak sudut pandang tak terelakan. Tak bermaksud untuk kupas tuntas kisah suram gelora politik Kabupaten Ende. Semua telah berlalu, dan telah jadi perjalanan sejarah  politik. Setiap orang punya tafsiran sendiri.

Dan itulah yang telah dan tengah terjadi. Sepertinya semuanya ingin ‘agungkan’ Friedrich Nietzsche (1844-1900). Si Filsuf Jerman itu punya keyakinan bahwa “fakta tak pernah ada. Yang ada itu cuma tafsir.”

Maka yang terjadi pada Kamis, 11 November 2021 di gedung DPRD Ende adalah kuat dan tebalnya ‘tafsiran akan harus adanya seorang wakil bupati.’ Dan tafsiran itu pun jadi titik tolak dari tafsiran berikutnya sekiranya semua aturan bisa diredusir dan ‘diperlemah’ sesuai isi keinginan pada tafsiran itu sendiri.

Kisah terpilih dan dilantiknya Wakil Bupati Ende kini memang sungguh goyah. Sebab ia dibangun dan disusun atas ‘satu batu tafsiran di atas batu tafsiran lainnya.’ Karenanya, sangat tak mengagumkan dan tidak berwibawa untuk masyarakat Ende. Mudah rapuh. Goyah dan ambruk.

Bukankah bahwa bahkan surat dari Dirjen Otda itu masih pula ditafsir-tafsir? Sungguh! “Jakarta locuta causa non finita est”. Entah Jakarta mau tetapkan apa, tafsiran jalan terus! “Baku ambil di medsos tetap berkobar.” Soal tak pernah tiba di titik finis.

Tetapi, apapun tafsiran dengan segudang ilmu dan pendasarannya, masyarakat Ende kini harus ‘gigit jari serentak penuh heran.’ Sebuah bencana politik telah terjadi di daerah yang selalu berbangga bahwa “Nilai-Nilai Pancasila dirahimi di tempat ini.” Ada  yang tak beres telah terjadi.

Ke Mana Arah ‘Perahu Politik Ende?’

Namun, tak usahlah berdendang penuh pilu, “Dosa-dosa siapa, ini dosa siapa? Salah siapa, ini salah siapa?” Sebab semua elit politik di DPRD Ende sudah pada tahu, “Mestinya aku tak bertanya lagi.” Sebab, “Jawabnya ada di relung hati ini.” Itu pun “Bila masih mungkin kita menorehkan batin” seturut lantun reflektif Bang Ebiet.

Politik punya hamparan strategi demi kemajuan hidup bersama. Tetapi ia banyak kali tak pernah luput dari tindak manipulatif demi kepentingan sepihak yang sembrono. Bukankah area politik itu tak pernah dan tak bisa automous. Sebab ia dipaket pula dalam lintasan psikologi politik. Dan bukankah dari area politik itu juga dituntut adanya legitimasi perilaku?

Politik dan kekuasaan yang seharusnya bening cemerlang telah jadi keruh oleh distorsi mental dan perilaku. Dan siapapun bisa alami ‘gangguan mental’ seperti ini. Iya, apalagi bila satu dua kepentingan tidak atau belum terjawabi.  Gangguan mental itu sungguh berujung kejam dan tak adil.

Ia berimbas pada perilaku yang sebatas hanya ‘jelih dan teliti membaca kepentingan sendiri, namun tak diimbangi oleh kesadaran akan jalur korupsi, kolusi, nepotisme, kekerasan atau ketidakadilan yang tengah dilewati. Atmosfer politik jadi amat kasar dan penuh gaduh, tetapi juga penuh senyap demi nyamankan segala kepentingan dan nafsu sepihak.

Uji Nyali dan Uji Kecepatan Tak Bertaji

Proses ‘terpilih hingga terlantiknya Wakil Bupati Ende ’ tentu tak bebas murni dari praktek-praktek koruptif yang telah mencederai harapan dan kerinduan seluruh warga Kabupaten Ende. Terbaca jelas bahwa yang disebut manuver dan strategi politik di Pilwabup Ende ini, sejatinya, adalah ‘aksi balapan liar uji nyali dan uji kecepatan.’

Apakah tak mungkin bahwa telah tercipta ‘jalur senyap penuh perjuangan lintasan Ende, Kupang, Jakarta’ hingga terlantiknya Erik Rede sebagai Wabup Ende? Yang terjadi sebegitu gampang ‘yang tak mudah?’ Sebab, polemik tentangnya telah bermuncratan sana-sini.

Nyatanya, walau telah terlantik, semuanya masih dalam bayang-bayang. Dan apakah ketakhadiran Bupati, Sekda Ende di Bandara Haji Hasan Aruboesman, Ende, demi menyambut datangnya sang wabup (Minggu, 30 Januari 2022) harus diterima begitu saja bahwa ‘‘kedua pejabat itu berhalangan karena ada kegiatan lain yang tidak bisa diwakilkan?”

Entah sampai kapan situasinya harus jadi teduh dan cerah secerah cahaya mentari pagi di puncak Danau Kelimutu?

Tetap Ada Harapan

Kini, demi ‘Ende sare-Lio pawe’ sepantasnya Kemendagri mesti bersikap. Iya, mengambil tindakan atau putusan yang pasti. Demi selamatkan situasi penuh bingung yan dihadapi masyarakat Ende. Memang terkesan bagai ‘makan pesta besarnya di Ende, tetapi Jakartalah yang dipaksa/terpaksa untuk cuci piring kotornya.’ Namun, mau bagaimana lagi?

Setidaknya, dengan itu ada pedagogi politik bagi warga NTT dan Ende khususnya. Urus orang banyak dengan rupa-rupa manuver penuh intrik demi kepentingan sepihak sering lebih munculkan banyak repotnya! Tetapi, mungkinkah di Ende tengah terjadi karma politik akibat ada banyak soal yang masih penuh tanda tanya? Entahlah! Tetapi, Ende harus bangkit dan bergerak maju.

Akhirnya…

Di Pilwabup Ende ini, ada KOMPAK dan PADMA yang merasa perlu membentuk tim investigasi. Dan lagi kata Gabriel Goa dari Padma dan Kompak, nantinya “Bekerja sama dengan insan pers yang independen dan berintegritas” (kabarntt.id 31.1.22). Tetapi mungkinkah ada apa yang disebut ‘pertobatan politik’? Setidaknya untuk mengakui adanya ‘jalan salah penuh serong yang telah dilewati, tahu dan mau, di perhelatan Pilwabup Ende ini?’

Raden Ajeng Kartini pasti benar. Perempuan bersahaja, teduh dan kokoh itu punya keyakinan bahwa ada sekian banyak hal bisa jadi hadangan untuk menjatuhkan. Tetapi, yang jelas, kita pasti jatuh oleh pikiran, keinginan, pilihan, sikap, keberpihakan pada yang suram dan yang tak semestinya.  Dan hal itu bisa menimpah kita. Iya, tak peduli siapa pun kita.

Verbo Dei Amorem Spiranti

Penulis, rohaniwan Katolik, tinggal di Roma, Italia

Pos terkait