Tapi, mari merenung pula faktor X di balik laga Inggris versus Senegal itu. Tidakkah kita merasa kagum akan para suporter Senegal? Mereka yang setia menemani Timnasnya dalam setiap laga. Mungkin saja mereka bersuara dalam dukungan demi sebuah kemenangan. Dan memang itu yang diharapkan.
Yang terjadi dan terlihat malam tadi adalah animo heroisme demi tim nasional. Entah menang atau kalah, semangat sorak-sorai demi para pemain. Semuanya tak ubah bagai ‘satu panggilan’ bagi para suporter. Sorak-sorai dukungan tetap digaungkan. Terompet tetap dinyaringkan. Lenggak lenggok tubuh tetap jadi bagai tarian hentakan penuh dukungan.
Nyaris tak telihat mayoritas wajah sembab penuh kecewa apalagi ‘reaksi marah’ atas gol demi gol yang dilesatkan ketiga pemain Inggris itu. Itulah risiko dari satu pertandingan. Menang atau kalah, lolos ke fase berikut atau tidak, itulah kewajaran dari satu turnamen. Tak bisa terhindar oleh tim mana pun.
Miliki semangat untuk memenangkan mesti diimbangi dengan kesediaan hati untuk menerima kenyataan kalah atau pun gagal. Mungkin seperti itulah yang terungkap dari hati mayoritas fans Senegal. Sebab itulah aura bertahan dan setia dalam dukungan tetap jadi warna hati.
Tak gampang memang untuk menerima kegagalan. Untuk menerima titik-titik rapuh yang bikin apapun jadi tak berhasil. Kita memang sudah terbiasa untuk hanya mau menerima dan mengakui ‘yang berhasil, yang bawa dan besarkan nama, yang berprestasi, yang popular dan bercitra indah.’
Sebaliknya, kita terkadang berat hati untuk menerima ‘yang gagal.’ Kita hanya mau setia dan lancar terus dalam hujatan dan terus saja menghujat. Tetapi, itulah warna kehidupan. Antara sanjungan dan hujatan amatlah tipis area pembatasnya. Antara tangan yang bertepuk dan tangan yang menampar bisa saja berubah dalam sekejap.





