Paradoks ini muncul karena kebijakan tidak terintegrasi. Kurikulum Merdeka menuntut guru kreatif, reflektif, dan berpusat pada murid. Tapi sistem akuntabilitas masih menuntut bukti dalam bentuk dokumen. Tes Kemampuan Akademik menuntut guru belajar. Tetapi tidak ada “jam khusus belajar” bagi guru. Pelatihan sering insidental dan tidak nyambung dengan hasil Tes Kemampuan Akademik.
Ditambah lagi, jumlah tenaga administrasi di sekolah sangat terbatas. Akhirnya semua pekerjaan teknis dilimpahkan ke guru. Akibatnya kompetensi akademik guru tidak sempat diasah, karena energinya habis untuk mengejar materi pembelajaran.
Agar Tes Kemapuan Akademik (TKA) Guru tidak menjadi beban baru, saya menawarkan tiga langkah sederhana berikut ini.
Pertama, Sederhanakan Administrasi Secara Serius. Program “Merdeka Belajar Episode 2: Merdeka dari Birokrasi” harus dikawal sampai ke akar rumput. RPP cukup 1 halaman. Modul ajar dibuat tim, bukan individu. Laporan dibuat 1 pintu dalam 1 aplikasi. Dan yang paling penting yaitu tambah tenaga administrasi di sekolah.
Kedua, Jadikan Hasil Tes Kemampuan Akademik sebagai Dasar Pembinaan.
Jangan berhenti di tes. Setelah TKA, guru harus dapat pelatihan yang sesuai kelemahannya. Bentuk komunitas belajar MGMP yang hidup. Beri guru “jam belajar” resmi 2 jam per minggu. Sediakan mentor dan bahan bacaan gratis.
Ketiga, Kembalikan Kepercayaan kepada Guru. Profesional itu dipercaya. Kurangi pengawasan berbasis dokumen. Perkuat pengawasan berbasis hasil: lihat perubahan muridnya. Beri guru ruang untuk gagal dan mencoba metode baru.
TKA Guru dan Administrasi sama-sama penting. Administrasi menjamin akuntabilitas dan ketertiban. Kompetensi menjamin kualitas pembelajaran.
Yang salah adalah ketika keduanya dibiarkan bertabrakan.
Pada akhirnya yang akan diingat murid bukanlah seberapa tebal laporan yang kita buat, melainkan yang selalu dikenang dan diingat murid adalah apakah gurunya menginspirasi, apakah gurunya hadir dengan hati, apakah gurunya membuat mereka mau belajar.
Mari kita kembalikan guru pada hakikatnya sebagai seorang GURU, sebagai pendidik, bukan penulis laporan.





