Jauhkan diri dari segala kejahatan.
Penulis Yohanes dalam Injil menyentil pula kisah Yohanes Pembaptis. Dialah suara yang berseru-seru di padang gurun. Inti kerygma (pewartaan) padang gurun adalah pertobatan, yang dilukiskan dalam tegasan kata-kata, “Luruskanlah jalan Tuhan…” (Yoh 1:23). Alur pertobatan itu ditandai dengan penyerahan diri dalam pembaptisan! Itulah jalan baru yang mengantar siapapun menuju keselamatan. Pembaptisan adalah jalan mulia orang dapat mengalami terang, yakni satu keadaan hidup penuh cahaya, yang sungguh berbeda dari kelamnya hidup lama. Bukan kah Yohanes pembaptis sendiri adalah saksi mengenai terang itu?
Kita Mesti Bersukacita!
Setiap kita, anggota Gereja, telah dibaptis dalam kuasa Tritunggal! Pencurahan Roh dalam permandian dan terutama dalam sakramen Krisma menjadikan kita sebagai orang-orang yang mampu menghayati hidup dengan penuh sukacita. Dalam sukacita Roh tentu ada pengharapan. Hidup kristiani tanpa sukacita adalah satu pengingkaran serius akan identitas dasarnya yang dibangun pula atas kekuatan dan kebenaran Injil (Kabar Gembira/Sukacita).
Tetapi, pengalaman ziarah hidup yang sekian menantang banyak kali membuat kita mengakrabi hidup dalam jalan penuh belokan yang berseberangan dengan jalan lurus, dalam kegelapan yang bertentangan dengan terang, dalam kesedihan, kekecewaan, serta putus asa yang amat berlawanan dengan sukacita penuh harapan dalam Kristus!
Mungkinkah ada sesuatu yang diabaikan dalam ziarah hidup kristiani, yang membuat kita jauh dari rasa sukacita? Mari kita ingat akan seruan tegas dari Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika, “Jangan padamkan Roh!” (1Tes 5:19). Kuasa Roh yang dimeterai dalam permandian sering terabaikan, tak didengarkan, tak ditanggapi. Roh itu menjadi tak bersinar dalam kenyataan-kenyataan hidup. Di muaranya, kita bisa kehilangan aura sukacita dan kegairahan hidup. Kita bisa kehilangan hati penuh ceriah dan berkobar-kobar.





