Tetapi gerak spiritualitas yang dicirikan pada Kaum Muda adalah ‘kebebasan, keramaian, keaktifan, mobilitas.’ Bagi Gereja (institusi) ini adalah peluang untuk menarik Kaum Muda kepada citra eklesial dengan gayanya sendiri sambil tetap dituntun.
Di hari-hari ini, tak hanya para religius, imam, bahkan sekian banyak Uskup pun terlihat ‘membaur ramai’ bersama Kaum Muda mereka di seputaran lapangan St Petrus atau di Pintu Suci Basilika-Basilika kota Roma.
Tentu terdapat rasa rindu mendalam Kaum Muda dari negeri jauh untuk mendekati Eropa, dan lalu menuju Roma. Demi bersatu ria dan teguh semuanya di dalam iman – harapan – kasih. Tentu, semuanya datang dengan seberkas terang harapan. Semuanya tentang apa yang dibawa ke dalam kebersamaan Yubileum dan kiranya ada sesuatu yang bakal dibawa pulang ke negara asal?
Apa Kaum Muda dari Asia, Afrika, Amerika Latin, misalnya, bakal kembali berbekal sebatas cerita? Bahwa betapa megahnya gereja-gereja fisik di Eropa, namun sayangnya umumnya telah jadi senyap karena ‘kekurangan, ketersedikitan umat?’ Menjadi gereja sepi yang ditinggalkan?
Bagaimana pun, kehadiran bersama Kaum Muda Sedunia tetap menjadi tanda berkat. Gereja tidak hanya dipahami sebatas perayaan ritual. Sebab iman itu juga mesti nyata dan dihidupi dalam amal. Dalam proaktif pada nilai dan kebaikan bersama.
Pada titik seperti inilah, animasi terhadap Kaum Muda dapatkan momentum yang indah dalam kebersamaan yang kaya dan variatif. Inilah saat di mana Kaum Muda belajar bagaimana ‘masuk Gereja, mengalami diri sebagai Gereja, dan sungguh berkiprah sebagai Gereja dalam keseharian.’





