Yubileum Kaum Muda, Antara Euforia dan Dahaga Kerohanian

bb49ee3cfe72b44b80dfe5de64178d55859a8565c96a60c16eda65689ba1b870.0

Hari-hari Yubileum Kaum Muda Semesta ini sekiranya menjadi satu titik refleksi mendalam bagi Gereja institusional di level mana pun. Kaum Muda bukanlah ‘keramaian yang hanya dibutuhkan dalam situasi darurat Paroki, misalnya.’ Namun, dalam keadaan keseharian, Kaum Muda hanyalah ibarat ‘generasi tertidur lelap.’ Jadinya?

Kaum Muda masih alami dirinya belum terbangun sepenuhnya dari identitas dan dalam pengungkapan diri nyata sebagai Gereja. Mungkin karena itulah seruan awal Paus Leo XIV bisa jadi menjadi pemantik: Kaum Muda adalah terang dan harapan Gereja, dipanggil menjadi saksi harapan dan Kabar Gembira itu sendiri.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Di titik lanjut, bagaimanapun selalu ada harapan untuk bangkit demi ‘kisah menggereja di hari-hari xesok.’ Temu Kawula Muda di Yubileum 2025 pasti akan datangkan ‘buah.’ Yubileum adalah kesempatan ‘jumpa wajah dan bertukar cerita. Inilah momentum untuk kembanglebarkan wawasan identitas dan panggilan hidup menggereja.

Tentu, saat kembali ke tanah air masing-masing, kembali ke keuskupan, ke paroki atau ke kelompok umat basis masing-masing, tetap ada kisah dan kesan yang terbawa dari Yubileum Mondial 2025 uk Kaum Muda.

Maka, akhirnya, mari kita berimajinasi. Sekiranya di suatu saat Tuhan datang dan menjumpai Kaum Muda di tempat masing-masing, dan Tuhan mendapati mereka ‘hidup dan aktif serta berceriah sebagai garam dan terang dunia.’
Itulah Kaum Muda yang ‘tidak menganggur saja sepanjang hari. Ini semua karena selalu ada sesama, petugas pastoral ‘yang mengupah dalam kebersamaan, dalam keterlibatan dan perutusan.’

Pos terkait