“Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator yang sangat penting karena menunjukkan aktivitas ekonomi yang terjadi di daerah dan akan menghasilkan tambahan pendapatan masyarakat pada kurun waktu tertentu,” sebutnya.
Selain itu, Bupati Willy membeberkan kondisi infrastruktur jalan di Belu sampai akhir tahun 2018 ini mengalami peningkatan yang signifikan. Jenis permukaan jalan dari total panjang jalan 479,57 km didominasi oleh permukaan jalan hotmix 331,29 km, permukaan kerikil 131,55 km dan permukaan tanah 16,73 km. Sementara kondisi jalan baik 237,80 km, sedang 69,2 km, rusak 46,16 km, rusak berat 132,83 km.
Dalam hal pengendalian terhadap kelangkaan air bersih atau air minum hingga saat ini atas kerja sama dengan Kementerian PUPR melalui Balai Pemukiman dan Prasarana Wilayah NTT telah dibangun SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum) Weoe, SPAM Wekiar, SPAM Wefiar dan SPAM Molosoan. Namun keberadaan SPAM terbangun belum bisa memenuhi kebutuhan air bersih di Kabupaten Belu.
“Hal ini dikarenakan debit air yang tersedia masih kurang dan cenderung menurun terutama di musim kemarau,” tandasnya.
Untuk itu, lanjutnya, sebagai langkah solusi di musim kemarau ada langkah alternatif diupayakan untuk menggunakan permukaan yang bersumber dari sungai dan bendungan.
Bupati Willy juga mengakui saat ini wabah Covid-19 berpengaruh terhadap semua sektor terutama sektor ekonomi. Kaitan dengan pemulihan dampak ekonomi, Pemerintah Kabupaten Belu telah melakukan beberapa kegiatan pemulihan dampak ekonomi masyarakat. Salah satunya berupa pemberian bantuan langsung tunai.







