Merespons hasil survei tersebut, Analis Politik dari FISIP Unwira Kupang, Michael Rajamuda Bataona, menjelaskan, hasil survei itu tidak boleh dihadapi secara apa adanya atau taken for granted. Tapi, dihadapi dengan pemahaman ilmiah bahwa itu data hasil potret sebuah fenomena politik. Di mana, di balik data kuantitatif itu ada banyak makna kualitiatif di sana. Potret itu memberi pemahaman yang luas dan mendalam tentang Pilgub NTT.
“Artinya, fenomena kecenderungan pemilih jika Pilgub dilakukan saat ini sudah terpotret bahwa Melki Laka Lena berpeluang meraih dukungan mayoritas. Terlepas dari prediksi hasil Pilgub, menurut saya, hasil survei saat ini yang menempatkan Melki Laka Lena di urutan teratas adalah refleksi kenyataan di akar rumput pemilih,” begitu analisa Master Politik jebolan Universitas Padjajaran Bandung ini, menjawab Pers di Kupang, Sabtu (27/7/2024).
Dia menjelaskan, hasil tersebut merupakan sebuah refleksi bahwa sosok Melki Laka Lena memang paling tinggi tingkat ketersukaan dan keterpilihannya di tengah pemilih NTT. Artinya, data survei ini bisa dipakai untuk mengasumsikan bahwa Melki Laka Lena itu punya kans yang besar dan terbuka untuk memenangkan pertarungan, sekeras apa pun pertarungan nanti. Karena Melki sudah punya modal dasar yang solid di level pemilih.
“Melki punya kepribadian yang humble dan mampu diterima di semua kalangan. Dengan cara komunikasinya yang cair dan akrab, Melki Laka Lena selama ini sukses menembus semua lapisan dan sekat sosial kultural dan sekat-sekat politik di NTT. Di hampir semua segmen pemilih dengan latar kultural berbeda, termasuk suku dan agama yang sulit ditembus, Melki Laka Lena bisa diterima,” jelasnya. (den)







