
Bapak sekarang ada di Biara Simeon. Apa yang bapak alami dengan tempat yang baru ini? Bagaimana dengan kesehatan? Pekerjaan membaca dan menulis?
Saya ada mata yang kritis juga lihat keadaan di sini. Di Larantuka, saya duduk di pantai, lihat laut, lihat kegiatan di kota. Lain halnya di sini, di gunung. Baru-baru saya sakit tiga hari, selesma keras karena di sini angin gunung. Saya setengah mati tapi sekarang sudah sedikit reda. Tempat kerja juga sangat mendukung aktivitas dan dekat dengan bruder perawat sehingga bisa menjaga saya. Terkait kesehatan saya, syukur kepada Allah. Beberapa waktu lalu kami periksa kesehatan ke Mahardika Maumere dan hasilnya luar biasa bagus. Tidak ada apa-apa. Semua baik-baik saja. Tentang kesehatan, saat ini saya tidak ada keluhan. Makan juga sangat baik. Mengenai kerja, saya sudah beritahu banyak orang bahwa pekerjaan saya teruskan karena tanpa ini bisa jadi saya mati lebih cepat. Pekerjaan saya ini telah menjadi bagian dari hidup dan juga karena ada bahan yang tidak langsung diterbitkan tapi dari Br. Petrus Lang yang menyediakan bahan sejarah misi dari Larantuka selama Jesuit sampai penyerahan kepada SVD. Saya menerjemahkan itu mula-mula dalam bahasa Belanda sebanyak 9 jilid. Dia sendiri yang pergi ke Jakarta dan mengambil semua dokumen ini dari arsip Jesuit. Semua bahan diketik dengan mesin ketik. Saat kembali ke Belanda, Br Petrus Lang menyerahkan semua naskah itu kepada saya untuk diterjemahkan. Saat di Larantuka, saya minta Pater Kramer SVD untuk menerjemahkan tapi dia pakai mesin ketik. Saya minta dia gunakan komputer tapi dia tidak bisa. Akhirnya saya minta orang di percetakan untuk mengetik kembali terjemahan Pater Kramer dan semuanya sudah ada di dalam komputer sehingga saya bisa mengoreksi dan membacanya.
Pater menerjemahkan surat-surat tulisan tangan para misionaris SVD yang berkarya di Lembata?
Tulisan tangan para misioanris SVD yang berkarya di Lembata, sebagian sudah saya terjemahkan tapi sebagian lagi saya serahkan kepada beberapa dosen asal Lembata untuk dikerjakan tapi saya tidak tahu perkembangan sejauh mana sampai sekarang ini. Sebagian tulisan itu dalam bahasa Jerman. Bahan-bahan itu sebenarnya bisa bercerita tentang Pulau Lembata tempo dulu. Terkait dengan ini, sebenarnya telah terbit buku saya di Jakarta dengan judul: Lamalera Bafalofe (Pintu Gerbang). Bahannya itu kerja Pater-Pater Jesuit selama 30 tahun, mulai dengan permandian orang pertama di Lamalera sampai penyerahan kepada SVD tahun 1920 ke tangan Pater Bernard Bode SVD. Buku ini mesti terbit dulu. Terutama menjelang 100 tahun SVD hadir dan berkarya di Lembata tahun 2020 ini. (*)
Penulis adalah Imam SVD dan Jurnalis







