(Catatan Kenangan untuk Pater Alex Beding SVD)
Oleh Steph Tupeng Witin
Pada Sabtu 12 Maret 2022, Pater Alex Beding SVD melangkah tanpa beban memasuki Rumah Bapa. Tepat pada usia 98 tahun, 77 tahun kaul dalam SVD dan 71 tahun dalam imamat. Sebuah keajaiban yang mustahil terulang kembali pada generasi berikut.
Duka agung menggenangi hati Serikat Sabda Allah. Ucapaan duka seolah tak terbendung menyeraki halaman media sosial. Ziarah hidupnya yang terbentang antara “Tena Laja” (bangsal peledang) dan Biara Simeon Ledalero menepi. Di antara ruan-ruas waktu itu tak terhitung butiran karya almarhum yang melimpah. Romo Yansen Raring membahasakan itu dalam nada simpati mendalam: “Satu yang paling kukenang ialah ketekunan ber-kata. Tiada terhitung “kata” yang ditulis, diterjemahkan, diperkatakan dan diwarta” yang menjelma menjadi “daging.” Ziarah orang pilihan Allah ini akhirnya terhenti di Bukit Sandar Matahari. Kata yang telah menjadi “daging” itu kini bercahaya ke segenap penjuru.
Pada tahun 2011, Pater Alex Beding SVD merayakan 60 tahun Imamatnya. Beberapa Imam SVD mengenang perjalanannya ini dengan menulis sebuah buku kecil berjudul: Bersyukur dan Berharap. Kenangan 60 tahun Imamat Alex Beding SVD.

Buku yang diterbitkan Penerbit Ledalero ini terdiri dari empat bagian. Bagian pertama: Kilas Balik Syukur dan Harapan. Bagian kedua: Doa, Ekaristi dan Imamat. Bagian ketiga: Kerasulan Media. Bagian Keempat: Keterlibatan Sosial. Pada bagian keempat tentang keterlibatan sosial ini Pater Alex menulis dua artikel singkat dan bernas: “Untuk Gereja Katolik Lembata” terkait proses hukum kasus pembunuhan Yoakim Langoday yang dinilainya penuh dengan drama (hlm. 133) dan “Pemerintah Melawan Rakyat” terkait kasus tolak tambang emas di Kabupaten Lembata. Dua artikel ini menggambarkan rasa memiliki (sense of belonging) terhadap tanah Lembata yang didera banyak kasus minim solusi kebenaran dan keadilan sejak otonomi 1999 (hlm. 155).
Berikut ini petikan “omong-omong” sederhana bersama Pater Alex Beding SVD di Biara Simeon Ledalero pada pertengahan 2019. Wawancara dalam dua kali pertemuan itu menggali perjalanannya dari Lamalera hingga berlabuh di Biara Simeon. Dalam usia 95 tahun kala itu, Beliau masih menerjemahkan banyak dokumen SVD. Komputer tua di bilik tetap menyala. Dokumen dalam bahasa Belanda tergeletak di sampingnya. Dia tetap setia berkaya hingga akhir. Kini semua di bilik sunyi itu hanya mampu bercerita dalam diam tentang tokoh pers yang tekun dan telaten ini.
Apa yang Pater rasakan saat berada di usia 95 tahun 2019 ini?
Saya mesti mengatakan bahwa saya merasa sangat bahagia karena saya sehat. Saya masih bisa bekerja. Ya mau bilang apa..ada banyak perhatian dari orang-orang yang mengenal saya dan tahu apa yang saya buat. Artinya, orang-orang ini punya perhatian terhadap kita punya gagasan, buah pikiran. Mereka punya perhatian terhadap semua yang kita lakukan dan hal itu membuat saya bahagia. Memang saya tidak menyesal bahwa saya tidak menjadi pastor paroki. Barangkali itu merupakan sebuah penyelenggaraan saya kerja jadi imam lalu pergi studi sesuai pembesar punya pikiran dan perkiraan bahwa saya punya bakat tertentu yang tidak seperti pastor paroki tapi akan bekerja di sebuah karya yang lain sesuai gagasan pendiri yaitu pewartaan. Saya jadi imam lalu pergi studi sampai sarjana muda di Universitas Indonesia lalu dipanggil pulang menjadi guru di Seminari Mataloko. Saya ikut saja perintah itu dengan sebuah perjanjian kepada universitas bahwa nanti saya kembali melanjutkan studi tersebut. Ternyata selama menjadi guru di Mataloko saya memberi kesan bahwa saya tidak perlu lagi ke Jawa untuk studi.
Banyak orang kagum dengan rentang usia sampai 95 tahun. Mereka bersaksi bahwa Bapak sangat disiplin dengan diri dan waktu.
Ya saya akui sangat disiplin dengan diri dan waktu. Saya banyak belajar dari pendahulu-pendahulu kita yang telah banyak memberi contoh bagaimana hidup disiplin. Memang semua orang punya keinginan atau bakat atau pekerjaan yang bisa dibuat. Memang saya melihat itu bukan sesuatu yang gampang. Saya melihat melalui pekerjaan yang saya buat bahwa kalau saya tidak disiplin maka saya tidak akan bisa buat apa-apa. Contoh, kalau saya tidak beri contoh hidup disiplin maka pembantu-pembantu saya akan bekerja sesukanya, asal-asal saja. Saya bersyukur bahwa saya boleh laksanakan itu dalam tindakan-tindakan pribadi seperti aturan itu saya laksanakan seperti yang saya buat sendiri, seperti bangun pada waktu yang direncanakan, makan sama dengan konfrater yang lain. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan karena sampai sekarang ini pada usia sekarang ini tidak punya satu penyakit. Banyak konfrater saya dengar sakit ini itu, operasi sana sini tapi saya bersyukur tidak pernah mengalami semua itu. Barangkali hanya satu kali saja dalam hidup saya, dimana saya kena pisau dan operasi kecil di RS Lela. Saya lihat Dokter Aliandu operasi saya waktu itu seperti bermain-main saja.
Bagaimana masa kecil dulu di Lamalera, keluarga, pantai, gereja yang berperan penting sampai sekarang?
Saya berasal dari Suku Bediona yang bertempat tinggal di Lamalera B. Bapak punya istri pertama melahirkan dan meninggal dunia. Kemudian dia pilih perempuan dari Lamalera A. Kami diarahkan pergi ke Lamalera A dan waktu saya dilahirkan itu diminta bantuan dari seorang bidan beragama Islam dari Larantuka. Keluarga kami punya kaitan dengan keluarga Islam. Hal itu kami pelihara sampai hari ini dan mereka begitu menyatu dengan kami. Kami berbeda agama tapi saling mengasihi sebagai keluarga. Mereka juga mempunyai perhatian sangat besar kepada saya sampai dengan hari ini. Saya tinggal di Lamalera A sampai saya masuk sekolah dasar (SD). Saat usia 6 tahun saya masuk SD di Lamalera. Pater Bernad Bode waktu itu masuk di Lamalera tahun 1920. Kami semua kenal Pater Bode sebagaimana saya gambarkan dalam buku saya sebagai orang yang diutus Tuhan untuk menjadikan Lamalera suatu pusat untuk bangkitkan semangat orang-orang menjadi guru, tukang-tukang yang tersebar di mana-mana. Saya kagum sekali dengan orang tua ini. Bapak saya seringkali membawa saya untuk bertemu dengan bapak tua itu dan saya bisa membaca pada mata bapak saya bahwa dia ingin sekali saya pada suatu waktu bisa menjadi seperti Pater Bode. Pake jubah, urus sembahyang, rosario di tangan. Waktu saya sudah masuk seminari, kami pindah ke Lamalera B. Rumah saya tidak terlalu jauh dari pantai. Jadi kalau ada kesempatan, pantai jadi tempat rekreasi. Saya belajar kenal laut, kenal pekerjaan orang-orang nelayan itu. Ya….saya tertarik juga. Bapak saya juga barangkali berpikir bahwa sebagai anak sulung, saya nanti menjadi pemegang tongkat pimpinan rumah besar. Dulu, saya mengalami bagaimana mama dan perempuan-perempuan Lamalera berjuang keras untuk menghidupi keluarga. Ikan yang ditangkap bapak dan laki-laki Lamalera mereka jemur di sekitar rumah dan kemudian mereka jual ke Pasar Wulandoni, penete, berjalan kaki berhari-hari, kadang bermalam di kampung atau jalan untuk menukarnya dengan padi, jagung, ubi, pisang dan bahan makanan lain lalu kembali ke Lamalera. Semua dengan berjalan kaki sambil memintal benang dari kapas untuk ditenun menjadi sarung tebal bagi kami semua. Sekarang memang zaman sudah berubah dan hampir tidak ada yang berjalan kaki lagi. Pake ojek, sepeda motor dan kendaraan berupa mobil lainnya. Coba bayangkan, dulu ibu saya dan perempuan-perempuan Lamalera lain berjalan kaki ke kampung-kampung di seluruh Pulau Lembata. Bagi saya, ini perjuangan yang sangat keras. Sadar atau tidak, ini menjadi inspirasi bagi kami agar selalu berjuang dan tidak gampang menyerah pada kesulitan dan tantangan hidup. Orang kita dulu dengan dengan fasilitas yang terbatas dan sarana yang minim tapi telah mencipta sejarah indah yang sangat mengagumkan.







