LARANTUKA kabarntt.id—Kekosongan blangko KTP (Kartu Tanda Penduduk) di Flores Timur (Flotim) yang sangat meresahkan warga yang ingin mengurus data kependudukannya bakal segera teratasi. Saat ini sebanyak 5.000 blangko KTP siap dikirim ke Larantuka.
Demikian ditegaskan Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Flores Timur, Marianus Nobo Waton.
Ditemui di ruangan kerjanya, Selasa (31/1/2023), Marianus membenarkan saat ini 5.000 blangko KTP untuk Kabupaten Flotim dikirim ke Larantuka.
Sebelumnya, ketiadaan blangko KTP sangat meresahkan warga Flotim. “Terkait dengan ketiadaan blangko KTP di Flotim ini sudah mulai akhir tahun. Sampai saat ini sama sekali kosong,” kata Marianus.
Marianus menegaskan, mengatasi kekosongan blangko KTP itu, pihaknya sudah mengajukan permohonan ke Dirjen melalui Kantor Penghubung Pemda NTT di Jakarta, dan mereka sedang berproses.
“Kemarin saya ditelpon bahwa mereka sudah berproses ke Dirjen. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa terealisasi. Kami ajukan permohonan sepuluh ribu blangko KTP, tapi belum tahu jumlah yang akan dialokasikan untuk Flotim,” kata Marianus.
Marianus mengakui ketiadaan blangko itu sangat mengganggu dan meresahkan warga. “Cuman kami tawarkan kepada masyarakat untuk bantu membuat KTP Digital sebagai solusi sementara. Untuk saat ini KTP Digital hanya bisa melalui HP Android. Proses pembuatan KTP Digital itu akan tersimpan di HP yang bersangkutan. Jadi seluruh data dalam KTP Digital secara otomatis akan tersimpan, baik KTP digitalnya, juga Kartu Keluarga dan Nomor Pokok Wajib Pajak. Juga kartu vaksin dan sebagainya terdapat di dalam aplikasi tersebut,” kata Marianus.
Menurut Marianus, kekosongan blangko KTP biasa terjadi akhir dan awal tahun. “Ketika rakor di provinsi kami disampaikan bahwa memang secara nasional stok blangko belum ada. Masuk di awal Januari kami diinformasikan bahwa stok blangko sudah ada. Sebagaimana biasanya kita ajukan permohonan,” kata Marianus.
Marianus mengatakan, stok blangko itu penting terutama untuk menghadapi pemilu 2024 mendatang.
“Terutama pemilih-pemilih pemula yang mau masuk usia 17 tahun, yakni para pelajar. Dalam usulan permohonan kami rencanakan seperti itu. Kami minta sepuluh ribu blangko. Kami minta bantuan Kantor Penghubung NTT di Jakarta, apabila terealisasi maka akan dikirim melalui titipan kilat,” kata Marianus. (abh)







