Oleh Pater Kons Beo, SVD
“Bahasa politik dirancang untuk membuat kebohongan terdengar jujur dan pembunuhan dapat dihormati” (George Orwell, Penulis Inggris, 1903 – 1950)
Sederhananya, di awalnya, ada pemakluman fakta tentang ketidakadilan. Itu akibat salah urus. Penuh bobrok dan ketidakbecusan. Segera naluri politik bergelora. Peta dan strategi perlawanan dirancang.
Maka gaung politik yang diterompetkan itu benar-benar “buat yang lemah dan digusur.” Politik adalah hadiah maha indah “buat yang dibungkam kebencian dan suara beringas.” Politik adalah harapan pasti bagi yang tak berdaya di tatanan ekonomi proletariat. Di titik ini, visi ini sepantasnya diperjuangkan. Lalu?
Segala yang ‘menderita,’ dan terpuruk di alam getir itu lalu mesti ditenun jadi satu lembaran identitas yang teraniaya. Karenanya “Kita harus lawan!” Dan selanjutnya? Bahasa (slogan) pun dipakai, etnis-sedaerah dimanfaatkan, agama ditunggangi, emosi di taraf rendah dibakar.
Tentu, ini saja tak cukup! Politik mesti ‘main cantik’ pada bongkar pasang kata-kata. Demi hasilkan rangkaian kalimat bernada: sedap terdengar, namun ia riuh gemuruh pada fakta lapangan.
Kata-kata mesti punya adversariusnya (lawan) yang mesti diganyang sejadinya. Maka, kita yang: mayoritas, saleh, pribumi, dan beriman sepertinya punya ruang dan diamini untuk, itu tadi, menggebuk yang: minoritas, bejat, asing atau pendatang, dan yang kafirun. Strategi kusam ini yang mesti dicermati dan disikapi serius.
Dan propaganda terus dipompa. Kampanye buram dan liar terus disembur. Demo mesti dirancang berjilid-jilid. Dan, itu tadi, identitas mesti dipolitisir. Di sini, menurut satu permenungan, sejatinya, ada yang serius dilupakan:
“politik identitas adalah produk sebuah masa, sebuah tempat. Ia tak berakar pada yang selamanya ada. Identitas pada dasarnya hasil keputusan politik. Setidaknya identitas punya fungsi instrumental: cara praktis buat memperoleh pengakuan, kekuasaan dan, dan kedaulatan.:
Padahal di bilik kepribadian yang sesungguhnya, identitas itu adalah pernyataan diri yang berkarakter. Ia kokoh dalam dirinya serentak berbendera mulia pada keterbukaan terhadap keberagaman. Identitas yang positif itu tegar dalam jatidiri dan karena itulah tak brutal dan kesurupan pada yang berbeda, ‘yang lain dari identitas dirinya.’
Di jelang momentum penentuan kekuasaan dan jabatan, kepanikan diri selalu jadi nyata. Tak tersembunyi. Ia dipintal dalam ‘rasa bahasa, ungkapan, strategi kolektif.’ Di sana-sini mesti ada percakapan terbatas. Di mana-mana mesti dikaroseri adanya setrum pemenangan bagi ‘yang punya kita’ serentak jadi pos penghakiman, penelanjangan serta penghancuran ‘yang punya mereka.’ Maka di tempat itu, sungguh nyata di telinga bahwa politik itu bercabang lidah. Keras memang! Tapi sebenarnya menjijikkan.
Sepertinya tak cuma itu. Alih kuasa dan jabatan pun disikapi oleh tumpahan kata, tanpa data dan hiperbolik dari yang muda. “Tinggal gunting pita” dari AHY (Ketum Partai Demokrat) bisa jadi isyarat rem untuk regim berkuasa untuk tidak jatuh dalam pencitraan, apalagi pada kesombongan sepihak. Tetapi ini juga bisa punya cabang artian lain bahwa AHY bukan hanya sebatas pangeran Cikeas, tetapi sudah jadi pangeran se Indonesia Raya. Sepantasnya segera dimahkotai di tatanan pemimpin negeri.
Tetapi, sayangnya, di momentum tahun politik 2024 ini, yang telah uzur pun, belum juga teduh hati sebagai ‘bapa nasional yang arif.’ Mungkinkah ini hanya sebatas rasa galau atau rasa cinta akan nusa dan bangsa? Atau jangan-jangan hanya karena tetap melekatnya post power syndrome?
Riak-riak bahasa politik mulai tempias sana-sana. Apapun terjadi kata-kata dan bahasa amat ramai bertaburan di jelang 2024 ini.
“JAKARTA salah mengambil keputusan yang fatal,” kata Anis Baswedan sebelum jadi Gubernur DKI Jakarta. Itu berkenaan ‘air hujan jatuh dari langit dan harus dimasukkan ke dalam tanah. Tak perlu gorong-gorong raksasa ke laut….’
Nyatanya, setelah jadi 01 DKI, apakah masyarakat Jakarta telah memilihnya jadi gubernur yang benar?
Di tahun 2024 ini, Indonesia memang tak boleh salah mengambil keputusan yang fatal dalam memilih para pemimpinnya.
Sebab itu di hari-hari ini resonansi kata, kalimat dalam propaganda mesti dicermati. Jangan sampai itu sebenarnya hanyalah sebatas stand up comedy. Politik memang bercabang arah. Sebab ia pun hasil dari bercabang lidah. Sulit diprediksi. Ada-ada saja.
Verbo Dei Amorem Spiranti
Villa Sandra – Portuense, Roma





