Oeh Pater Kons Beo, SVD
Kawan ku…
Telah lama kita tahu semuanya. Kita tak pernah tunggal dalam diri kita sendiri. Bahwa kita sedikit pun tak terhubung pada apapun dan terkait dengan siapapun. Itu tentu sia-sia dan tak mungkin!
Kawan ku…
Kita terkait dengan pasangan hidup kita. Kita berakar pada panggilan hidup. Kita dilekatkan pada tugas dan tanggungjawab. Kita tersentuh dengan segala gema suara hati dan gema hidup keberimanan. Tidak kah kita dimahkotai dengan segala janji dan sumpah yang kita ucapkan???
Kawan ku….
Dan di atas semuanya kita ‘hanya’ ditatap dan diukur dengan satu pertanyaan mahadalam:
“Setia dan bertanggung jawab kah dikau akan semuanya itu?”
Kawan ku….
Semuanya sedari awal mula ‘bersinar dan baik adanya.’ Tuhan mempersatukan semuanya dalam kebaikan dan demi kebaikan itu sendiri.
Namun, Kawan ku….
Tidak kah kita sering berlangkah di luar jalur kesetiaan dan tanggungjawab itu? Kita berjalan dalam ‘suka-suka dan senang-senangnya kita sendiri.’ Semuanya atas tafsiran, pikiran, serta kehendak hati kita sendiri yang acap kali ‘miring dan bergulung-gulung erornya.’
Kawan ku…
St Thomas Aquino yakini semuanya berhulu pada ‘kelemahan kehendak.’ Yesus, Tuhan dan Guru menukik sekian tajam, “semuanya karena ketegaran hatimu….”
Kita memang bertegar hati…
Kawan ku….
Kita pada akhirnya ‘tersentak dan terbuka mata.’ Betapa dunia dan sekian banyak bangsa manusia, sesama-sesama kita, di sini dan di sana, terluka – tersakiti – hancur – putus asa – terpisah – tercecer dan berantakan – penuh ratap tangis dan air mata – terasa remuk di dalam dada – serta tanpa kepastian nasib kehidupan.







