Jemari Ano bergerak perlahan di atas tuts organ. Di depan peti jenazah ayahnya, ia mulai menyanyikan lagu Titip Rindu Buat Ayah karya Ebiet G. Ade. Suaranya hampir sempurna. Sama sekali tidak memperlihatkan bahwa sejak kecil ia mengalami gangguan mental alias autis. Setiap kata terdengar penuh penghayatan. Banyak orang yang hadir pada pemakaman wartawan senior harian Kompas, Kornelis Kewa Ama, tak kuasa menahan air mata.
Siang itu, Jumat, 13 Maret 2026, tenda duka yang dipasang di halaman rumah dipenuhi para pelayat. Mereka datang dari berbagai tempat, membawa duka sekaligus kenangan tentang seorang suami, ayah, sahabat, dan jurnalis yang mereka kenal dengan cara masing-masing.
Dari Demon Dei, Adonara, tampak keluarga besar almarhum yang menempuh perjalanan jauh untuk mengantar putra kampungnya pulang dalam doa. Dari Semarang, keluarga pihak istri juga hadir, berbagi kesedihan bersama sang dokter yang puluhan tahun lalu memilih berjalan seiring hidup dengan Kornelis Kewa Ama.
Halaman rumah itu perlahan menjadi ruang pertemuan banyak kisah. Keluarga besar Lamaholot memenuhi kursi-kursi di bawah tenda. Umat KUB Fransiskus Asisi bersama sejumlah komunitas basis lain dari Stasi St. Fransiskus Xaverius Naimata datang silih berganti, menyalami keluarga dan mengambil tempat di antara para pelayat.
Di antara mereka juga hadir beberapa sahabat lama dari masa studi di STFK Ledalero. Wajah-wajah yang pernah berbagi ruang belajar dan percakapan panjang di bangku kuliah kembali dipertemukan oleh kabar duka itu. Di antaranya tampak JB Kleden bersama sejumlah alumni lainnya seperti Willem Open dan Kristo Blasin.
Namun kelompok yang paling terasa berkabung adalah para jurnalis. Mereka datang bukan hanya sebagai pelayat, tetapi sebagai sahabat seperjalanan dalam dunia pers. Kursi-kursi di bawah tenda dipenuhi wajah-wajah yang selama ini dikenal di ruang redaksi maupun di lapangan liputan: Frans Sarong, Dion DB Putra, Tony Kleden, Bone Pukan, Fery Djahang, Rudi Tokan, Yos Diaz, Edy Hayon, Oby Lewanmeru, Metil Dhiu dan masih banyak lagi.
Sebagian masih aktif menulis berita, sebagian lainnya telah purnabhakti. Namun pada siang itu mereka hadir dengan satu perasaan yang sama: kehilangan seorang kawan dan guru yang pernah berjalan bersama mereka dalam dunia jurnalistik. Di bawah tenda duka itu, kisah hidup Kornelis Kewa Ama seakan kembali dipertemukan dalam wajah-wajah yang datang untuk mengantarnya pulang. Kesedihan jelas terasa di wajah banyak orang yang hadir. Namun di balik duka itu, ada pula iman yang meneguhkan: keyakinan bahwa hidup manusia berasal dari Tuhan dan pada akhirnya kembali kepada-Nya.
Menurut jadwal, prosesi pemakaman seharusnya dimulai pukul dua siang. Namun waktu bergeser hampir setengah jam. Sebelum misa dimulai, keluarga masih menjalankan sebuah ritual adat—tanda perpisahan terakhir dengan almarhum. Bagi putra-putri Lamaholot, tradisi itu bukan sekadar formalitas. Ada makan bersama yang terakhir, sebuah simbol bahwa ikatan kekeluargaan tetap terjaga bahkan ketika seseorang harus berpulang.
Sebelum misa pemakaman dimulai, riwayat hidup almarhum dibacakan. Banyak yang baru mengetahui bahwa Kornelis Kewa Ama adalah orang pertama di kampung halamannya yang berhasil meraih gelar sarjana. Sebuah pencapaian yang pada masanya tentu tidak mudah. Lebih dari itu, ia kemudian bergabung sebagai jurnalis di harian Kompas—sebuah perjalanan hidup yang kemudian membawanya menulis berbagai kisah tentang masyarakat dan kehidupan. Terutama bersuara bagi kalangan yang terpinggirkan. Sebuah doa kehidupan yang kemudian disentil Romo Sintus Efi dalam homilinya. Pastor yang juga Kepala Sekolah SMA St. Karolus Penfui ini mengharapkan para jurnalis terutama yang beriman Katolik agar sungguh-sungguh mengedepankan fakta dan kebenaran dalam karya jurnalisme.
Seusai misa, kesaksian datang dari seorang senior almarhum sekaligus rekan kerja di Harian Kompas, Frans Sarong. Ia mengenang perjalanan generasi wartawan Kompas dari daerah Nusa Tenggara Timur. Menurutnya, Kornelis Kewa Ama merupakan bagian dari angkatan kelima jurnalis Kompas kelahiran NTT. Sebelumnya ada Marsel Beding pada angkatan pertama, disusul Valens Doy pada angkatan kedua, lalu Damian Godho pada angkatan ketiga, dan ia sendiri angkatan keempat.
Mereka semua, kata Frans Sarong, memegang teguh nilai dasar jurnalistik Kompas: integritas. Seorang wartawan harus berpegang pada fakta dan kebenaran, bukan mudah dilipat seperti selembar amplop. Kata-kata itu melayang pelan di tengah suasana yang masih dipenuhi duka. Kesaksian yang tidak hanya menegaskan integritas almarhum namun sekaligus sebagai suara kenabian menggugah nurani para kuli tinta agar kembali ke fitrah jurnalis sejati.
Setelah kesaksian itu, beberapa ungkapan penghiburan juga disampaikan oleh Ketua Dewan Stasi St. Fransiskus Xaverius Naimata, Dominikus Ancis alias DoA. Ucapan terima kasih keluarga disampaikan ponakan almarhum, Yoris Tukan yang mengisahkan kembali riwayat sakit dan detik-detik terakhir ziarah Kornelis Kewa Ama.
Dan, sebelum keluarga inti memberikan penghormatan terakhir, pemandu acara, Ara Lamarian yang juga Putera Adonara mengumumkan sebuah penampilan yang telah disiapkan sejak malam sebelumnya. Putra semata wayang almarhum, Graciano—yang akrab dipanggil Ano—akan menyanyikan lagu Titip Rindu Buat Ayah karya Ebiet G. Ade.
Ano berjalan ke depan mengenakan kemeja putih lengan panjang. Ia duduk di depan organ. Perlahan jemarinya menyentuh tuts. Nada pertama terdengar lembut, lalu suaranya mengikuti. Lagu itu mengalir pelan, penuh penghayatan.
Banyak orang yang hadir tak kuasa menahan air mata. Beberapa mengusap wajahnya, yang lain menunduk dalam keheningan. Aplaus panjang terdengar—bukan hanya setelah lagu itu selesai, tetapi bahkan ketika Ano masih menyanyikannya.
Setelah lagu itu berakhir, suasana kembali hening. Tak lama kemudian, derap langkah perlahan terdengar. Istri almarhum, keluarga duka, umat, dan imam bersama-sama berjalan menuju pusara yang telah disiapkan di samping rumah. Sore itu cuaca seakan ikut memberi warna pada perpisahan itu. Hujan rintik-rintik sempat turun, lalu berubah menjadi lebat, sebelum akhirnya perlahan mereda dan langit kembali cerah. Ara, pemandu acara itu, berkomentar dengan nada reflektif. Dalam kepercayaan masyarakat Lamaholot, katanya, jika hujan turun saat pemakaman, itu pertanda bahwa yang meninggal adalah seorang yang besar dalam hidupnya. Ia juga mengutip kata-kata Mahatma Gandhi. Ketika seorang anak lahir, katanya, sang bayi menangis sementara semua orang tertawa. Tetapi ketika seseorang meninggal, semua orang menangis—dan orang yang meninggal itu justru tersenyum dari dunia yang lain.
“Ama Kor, di tepi makam ini kami menunduk dalam doa. Memandang pusara yang kini siap menerima tubuhmu. Beristirahatlah dalam damai”. Sebuah lantunan doa dari Ketua Paguyuban Soga Naran Lamaholot Stasi Naimata, Frans Geroda, berbisik pelan.
Langit sore masih cerah. Orang-orang berdiri mengelilingi pusara, sebagian masih terdiam, sebagian menundukkan kepala dalam doa. Dan di antara keheningan itu, masih terngiang lagu yang baru saja dinyanyikan Ano untuk ayahnya: Titip Rindu Buat Ayah.
Di tengah duka, musik seorang anak untuk ayahnya seakan menjadi doa yang paling jujur. Sebuah nyanyian yang mungkin akan terus hidup lebih lama daripada semua kata-kata perpisahan hari itu. Selamat jalan suami, ayah, sahabat, dan wartawan senior. Melangkahlah dalam sunyi mengetuk pintuh rumah Bapa. (Yos Sudarso Sogemaking, mantan wartawan Pos Kupang)
Titip Rindu Buat Ayah (Yang Tersisa dari Pemakaman Jurnalis Kornelis Kewa Ama)







