Oleh Kons Beo, SVD
Mari berkaca lagi pada Sabda Tuhan. Salah satu sumber iman kemuridan kristiani.
Ini tak berarti bahwa ajaran tentang Allah atau seputar Tuhan itu tak penting. Bukan! Toh, agama apapun tentu punya barisan litania ‘depositum fidei’ (perbendaharaan iman). Iman kristiani dengan banyak pendekatan dan sudut pandangnya pun teramu dalam sekian banyak tesis tentang Allah dan Ketuhanan.
Dan tesis-tesis tentang Tuhan itu, atau teologi, dipagar mati sebagai karakter dasar ajaran. Semuanya mesti diakui, diimani dan dipertahankan internal. Dan dalam perelasian dengan alam eksternal, ‘yang bukan kita,’ sering riak-riak apologetik tak terhindarkan. Bahkan sampai pada titik-titik nadir..
Artinya…?
‘Tesis-tesis teologis kamilah yang sahi, benar, rasional, historis, tradisional, biblis, atau bahkan ilahi…’ Dan itu (sering) sudah cukup sebagai modal tebal untuk masuk ke alam apa yang sering disebut sebagai ‘nafsu kemurnian.’
Dan bagi yang lain? Yang bukan kita?
Amatlah mudah untuk didakwah sebagai bidaah, sesat, kafir, dengan semua efek kenajisannya. Dan, lihatlah! Agar terkesan dan ternilai ‘murni dan benar,’ maka akrobatisasi tesis-tesis teologis jadi modus tak terhindarkan.
Praktisnya?
Muara sejarah yang pasti telah dibikin belok arah. Tradisi dihujat dan disangkal. Kebijaksanaan lokal dan kultural dikangkangi. Dan, lebih dari itu doktrin lalu diberi pakaian Alkitab dalam tafsiran serius atau pun ala kadarnya pada pasal ini dan ayat itu.
Dan terjadilah…
Tampak, tak ada perjalanan menuju kebenaran. Yang teralami nyata itulah geliat pembenaran diri sepihak. Dan, itu tadi, di situlah segala kiat dan modus apapun dipakai.
Satu catatan ingatkan.
“Pada saat orang beragama mulai bicara tentang kebenaran, orang menjadi cemas. Ini dapat mengerti. Di seluruh dunia, kekerasan dikaitkan dengan iman yang berbeda yang mempertengkarkan kebenaran.”
Masih dilanjutkan….
“Pewartaan tentang itu tidak mungkin semuanya benar, lalu umat beriman mulai saling membunuh.”
Iya, karena pewartaan agama (iman) yang berbeda, terlahirlah sikap dan tindak intoleran, tekanan, lagak aroganis, kekerasan, serta indoktrinasi maut yang terlumpuri dalam aksioma haram, kafir, berhala atau najis bagi yang berbeda. Tetapi juga tak disangkal, bahwa dalam satu agama, atau tepatnya satu gerakan religius, penafsiran atas Kitab Suci pun sekian variatif serta sengit penuh tarung. Berbeda telak satu dengan lain.
Tetapi, sesungguhnya, tetap terdapat harapan bahwa kebenaran itu dapat dicari dan dicapai dalam kesabaran dan terutama dengan kerendahan hati.
Albert Camus, setidaknya, dalam satu ceramahnya di Paris, sesudah Perang Dunia Kedua, pernah idealkan jalan berdialog di antara kaum beriman. Dan Camus ada pada keyakinannya, “Dialog hanya mungkin di antara orang yang tetap menyadari siapa dirinya, dan siapa yang menyatakan kebenaran.”
Yang umum terjadi dan teralami adalah kebenaran bersama gagal dicapai. Dan kaum beragama terblok hanya pada perbedaan-perbedaan. Dan perbedaan dengan pihak lain, yang tak terjangkau dengan akal sehat yang sanggup memahami dan hati yang teduh, akan mudah diganti dengan berondongan obyektivisasi sinisme, hinaan, pencemaran. Dikemas dalam kata-kata dan aksi-aksi theatrikal yang sempit, konyol dan juga menggelikan. Dan tentu saja dilulur dengan ramuan-ramuan logika yang pincang dan memabukkan. Penuh ilusi, kabur dan tebal penyesatannya.
Tentang agama, tepatnya isi iman, yang lalu dirayakan, sejatinya, itulah zona eksklusif bagi penganutnya. Itulah teritori otonomi doktrinal iman dan bagaimana cara setiap penganut merayakan imannya.
Namun, yang sering terjadi, ‘yang bukan kita’ ditakar dalam ukuran punya kita. Iya, dalam segala keharusan standar kita. Dan terjadilah biasan-biasan suram bermuncratan tempias sana-sini. Inilah awal dari suasana keruh dan kekisruhan antar penganut agama.
Seorang pengkotbah tenar pernah bersaksi lurus tanpa belok, “Di mimbar ada Alkitab. Dan aku sebenarnya tak membukanya penuh. Kubaca sepintas belaka, bahkan sering tak kubaca mendalam. Datar seadanya. Dan jadilah, yang keluar dari mulutku bukanlah Kabar Gembira.
Semuanya hanyalah tafsirku, hasratku, mimpiku, pikiranku, kenyamananku, popularitasku yang infantil, kepentinganku serta semua berakar pada AKU…” Dan di muaranya suasana panas dan kegaduhan pun tercipta.
Dalam segala yang berpangkal pada AKU (bukan Injil atau Kabar Gembira), maka kata-kata tak pernah jadi satu kerygma damai dan kasih persaudaraan. Semuanya telah terlumpur oleh kebencian, hasutan, kepalsuan, pembohongan, dan. penyesatan.
Satu catatan ingatkan, “Jika kita menabur kata-kata di sekeliling kita tanpa memperhatikan makna dan kebenarannya, secara harafiah kita dapat membunuh orang lain.”
Sebaliknya….
Sabda Tuhan sepantasnya disambut penuh hormat dalam kesadaran iman mendalam. Bahwa Sabda Tuhan miliki ‘kekuatan untuk menyembuhkan dan menghidupkan atau sebaliknya bahwa ia bisa melukai dan membunuh ketika dipakai sebagai ‘alat suci’ yang dinajiskan oleh selera tafsiran sempit, licik dan sepihak.
Akibatnya lainnya? Yang tertata adalah kebangunan rohani penuh cemas, serba takut-takut serta tebal prasangka…
Dan justru inilah yang pantas disayangkan.
Jemaat, umat, masyarakat kini, benarlah, telah terjerembab dalam prasangka dan kecurigaan yang menebal. Dan tugas Gereja, tentu bukanlah sekadar cermat memilih dan memakai kata-kata. Jauh dari itu, bahwa bagaimana daya kata-kata itu terungkap dalam forma dan isi rencana dan kehendak Allah sendiri.
Dan karena itulah kita, Gereja, sepantasnya mesti kembali. Kembali pada Firman. Firman yang berdaya hidup….
Verbo Dei Amorem Spiranti.
* Penulis, rohaniwan Katolik, tinggal di Collegio San Pietro, Roma.
Pada pesta S Matius Rasul dan Penulis Injil





